[Fanfiction] Love at The Dusk

images (3)

// Love at The Dusk //

a movie by Jung Sangneul

Starring : [EXO-K] Oh Sehun and You

││Genre : Romance, Slight!Angst, Sad││Length : Ficlet││Rate : PG││

2013©present

^^^

            “Mengapa?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari pikiranku ketika senja kembali menjemput hari, membawa mentari kabur ke peraduannya, menyisakan jejak jingga di ufuk sana. Banyak yang terlintas di benakku ketika senja datang. Karena pada saat itulah dia juga datang. Membawa seikat bunga lili yang kusukai dan seulas senyum tipis di bibir manisnya.

Aku mengenalnya dalam hidupku. Kami seumuran, bahkan Ibuku bilang jarak lahir kami hanya beberapa hari, dan memang begitu. Kami bersatu ketika masa kanak-kanak, dan kemudian mengubur rasa ketika beranjak remaja. Aku tidak tahu getaran apa yang menelusup dalam relung hatiku ketika ia menyentuhku, memberikan perlindungan lebih dan itu bukan dalam konteks biasa.

Banyak pertanyaan yang membabi buta dalam hatiku ketika senja tiba. Karena saat itu ia akan memelukku di balkon apartemen dan aromanya yang khas tinggal di bajuku, menyisakan segumpal kebahagiaan dalam hati. Karena di senja itu ia akan menceritakan banyak hal seraya menggumamkan kalimat yang kemudian kusesali dalam diam.

“Oh Sehun.”

Nama yang berulang kali tercatat dalam setiap momen hidupku. Dulu aku mengira hanya akan mengenalnya sebagai kanak-kanak jahil yang bermain perosotan dengan wajah bahagia. Dulu aku kira hanya akan menganggapnya saudara seumuran biasa yang menyebalkan karena selalu menarik ikat rambutku ketika bermain kejar-kejaran.

Saudara? Ya. Aku tidak tahu bagaimana semuanya bisa terjadi. Namun senja hari adalah segala jawabannya.

***

            “Sehun-ah.” Ya, senja hari kembali menjemput dan mana aku tahu kalau aku tak pernah bisa menolak untuk membukakan pintu dan menerima senyuman hangatnya. Kembali tenggelam dalam dekapannya, kembali membiarkan nafasnya yang hangat menyentuh leherku dan membuatku tertawa geli. Kembali membiarkan suaranya menyapa hariku, memberiku ketenangan dalam setiap nadanya.

“Ya?” Dia menjawab singkat. Nada suaranya selalu lembut, membuatku memujanya untuk sekian detik kemudian.

“Tidak salahkah?” tanyaku menguar, kepalaku menoleh bersentuhan dengan pipinya yang lembut.

“Salah? Apa?” tanyanya kembali, tatapannya beralih pada langit senja yang masih bergurat oranye.

“Kautahu semua ini tidak benar. Kita, saudara, kan? Kautahu itu, Sehun.” Aku menghela nafas panjang setelahnya. Aku merasakan Sehun tertegun sejenak, namun kemudian menggeleng.

“Tapi kita… sepupu kan? Kurasa tidak sesalah itu. Kita bukan kakak dan adik, sayang.” bantahnya kemudian. Aku hanya mengangguk pelan.

“Tapi Ibuku bilang kita tetap saudara. Kalau ia tahu…”

Sehun membalikkan tubuhku dan memelukku.

“Jangan beritahu siapapun sementara ini. Kalau, kalau orangtuamu atau orangtuaku tahu, aku yang akan menjelaskan semuanya. Aku mencintaimu.”

Ada setitik lara terpendam dalam palung hatiku. Sejengkal asa menggantung ditatap langit senja, tapi sungguh aku tidak tahu mesti berkata ya atau tidak. Bagaimana jika aku dicoret dari daftar keluarga? Bagaimana?

Namun yang keluar dari bibirku justru, “Aku juga mencintaimu, Sehun.”

Mungkin cinta tak pernah memandang batasan umur atau apapun. Dan ini salahku untuk terjerumus dalam senyuman miliknya, dekapan hangatnya, suara lembutnya. Aku terlanjur mencintainya, dan semua itu bukan salahnya seorang, namun juga kesalahanku.

***

Sebenarnya semua berawal dari pertemuanku dengannya di bangku kelas satu SMA. Sekian tahun aku tidak melihat sosoknya, terakhir kali dia masih Sehun kecil yang berumur sebelas tahun. Dan tahun itu ia serta keluarga kecilnya pindah ke Incheon merawat Nenek yang sakit. Kudengar Nenek sudah tiada, dan Sehun kembali ke Seoul. Atas rekomendasi Ayah ia bersekolah di tempatku juga akan sekolah. Mungkin awalnya aku menganggap semua itu biasa dan dengan sedikit adaptasi akan baik-baik saja. Tapi tidak.

Dia berubah. Dia bukanlah Sehun cengeng yang kukenal dulu. Dia bukan Sehun nakal yang membuatku berkali-kali menggumamkan kesal. Dia lelaki tinggi, tampan, dan incaran semua gadis di sekolah. Dia lelaki sederhana yang bersenyum maut dan… aku yang salah ketika rasa itu menyergap hatiku. Aku yang salah ketika terus-menerus menatap matanya dan perlahan namun pasti ia menyeretku masuk ke sana. Ke dalam kehidupannya.

“Aku mencintaimu.”

Dia mengungkapkan itu di ujung kelas tiga SMA, senja hari di depan rumahku. Gurat jingga menghiasi dan ia dengan nafas terengah tiba di depan pagar, menyatakan itu. Orangtuaku memiliki urusan di luar kota, beruntunglah mereka tidak ada ketika Sehun datang. Ini semua salahku karena pada hari itu menyerahkan seutuhnya hatiku padanya, membuatnya memelukku dan mengatakan semua akan baik-baik saja.

Aku tidak peduli ketika awal masuk kuliah memutuskan pindah ke apartemen dekat kampus dengan alasan tidak perlu jauh-jauh untuk pergi kuliah. Orangtuaku tidak tahu bahwa anaknya ini, aku, hanya ingin menghindari dakwaan mereka jika saja suatu hari tertangkap basah memiliki hubungan spesial lebih dari teman dekat dan saudara dengan Oh Sehun.

Oh Sehun memenjarakanku dengan sikap selembut kapasnya. Dia memanjakanku dengan aroma parfumnya. Dia menyayangiku, mencintaiku. Lalu bagaimana aku harus menolaknya?

Malam ketika aku kembali memikirkan semuanya. Bagaimana jika keluargaku atau keluarga kecilnya tahu, mungkin kami akan didepak dari calon pewaris tahta dan marga kami dicoret dari keluarga besar. Bagaimana jika Ibu tidak lagi menganggapku anaknya. Aku terlalu letih dengan semuanya, terlalu lelah dengan kebohongan tak berujung ini, ketika mendatangi Hyomin, temanku di fakultas yang sama—yang tahu mengenai hubungan terlarang ini.

“Memang hari ini tidak terlihat salah, tapi mungkin di hari berikutnya, kau akan menyesal. Tidak bisakah kau lupakan Sehun?” Itu tawarannya. Tapi bagaimana bisa aku melepaskan semuanya begitu saja? Empat tahun yang lalu mengenalnya, dan setahun setengah menjalani hubungan ini, akan sulit untuk menghapus jejaknya dari dasar hatiku.

“Tidak ada pilihan lain, Hyo?” tanyaku dalam gumam.

“Kau bisa, kau pasti bisa. Mungkin dengan menjauh darinya,”

Dia terlalu dekat. Bagaimana mungkin aku lepas dari cengkeramannya? Aku bahkan tidak sanggup mengungkapkan rasa dilemaku padanya. Tuhan, apa aku punya dosa besar sehingga kau memberikan ujian ini padaku? Apakah aku pernah membuat kesalahan tak termaafkan di masa lalu? Ataukah ini karma?

Hyomin memeluk bahuku kuat ketika dirasanya hembusan nafas lelahku semakin terdengar kentara.

“Kau pasti kuat, aku yakin.”

***

Namun terlambat.

Seperti roda yang akan terus berputar, kebohongan tak selalu bertahan di atas. Sepandai apapun tupai melompat, ada saatnya ia akan terjatuh. Begitu pula ketika aku akhirnya terjatuh dalam kemarahan orangtuaku senja itu.

“Kau menyukai Sehun, iya?!” Telingaku panas mendengar bentakan Ibu, namun tak kunjung menjawab desakannya.

“Jawab Eomma! Kau akan selamanya bungkam? Lalu ini apa?!” Aku menelan ludah. Baiklah, aku memang bodoh dan banyak sekali salahku ketika aku mencatat semuanya. Semua isi hatiku dalam buku itu, ditambah bukti foto di almari belajarku dan itu cukup. Palu sudah dipukul dan Ibu menarikku paksa keluar apartemen dengan gurat kemarahan menghiasi wajahnya.

Senja menghilang tanpa pelukan Oh Sehun seperti hari-hari sebelumnya. Tanpa kecupan hangatnya dan bisikan lembutnya. Tidak lagi bersama harum parfumnya dan tawa renyahnya. Aku benci ketika Ibu memarahiku tapi di sisi lain memang akulah yang salah.

“Kau lupa dia siapa? Dia saudaramu sendiri, sepupumu! Mengapa bisa kau melakukan ini?! Kau lupa, hng?!”

Sekali lagi aku diam. Ibu lelah melontarkan segala isi hatinya sementara Ayah hanya diam tertahan di ruang tamu. Tidak, Bu. Aku tidak lupa akan hal itu. Hanya saja aku berpura-pura lupa, aku menepis segala kenyataan ketika Sehun memberikanku kenyamanan itu dan aku merasa yakin untuk mencintainya. Tidak dengan setengah hatiku, tapi seluruhnya.

Malam menjengukku dengan dingin anginnya, dan tidak ada lagi hangat lengan Oh Sehun yang merangkulku, hingga dering telepon lepaskan semua pikiranku. Pintu telah terkunci rapat, tidak ada suara dari orangtuaku, maka kuangkat telepon itu.

“Halo.”

“Hey, aku tadi ke apartemenmu dan kau tidak ada. Ada acara?” Hatiku terasa dicabik pisau ketika suara itu, suara yang sangat kukenal dalam separuh perjalanan hidupku melantun di sana.

“Halo? Kau masih di sana?” Kembali mengalun ketika aku tak kunjung membalas sapaannya, dan tanpa sadar justru airmata yang mengalir turun di pipiku.

“I-Iya, aku ada acara di rumah Eomma. Maaf ya, aku lupa bilang.” Aku berusaha menetralkan suaraku, menganggap semua yang tadi tak pernah terjadi.

“Oh, baiklah. Tapi besok kau sudah kembali, kan?”

Aku mencoba tersenyum, sesulit apapun kedua sudut bibirku kutarik. “Iya, aku pasti kembali. Pasti.”

Namun aku tidak tahu itu untuk kapan, Oh Sehun. Bisakah aku menghapusmu dari hatiku? Bisakah memori kita menghilang dari kepalaku seperti debu yang tertiup angin? Seperti abu yang tergerus angin malam. Seperti cahaya matahari yang tertutupi awan mendung.

Bisakah?

“Baiklah, jaga kesehatanmu, jangan sampai sakit.” Kembali kurasakan ngilu menusuk dadaku dan airmataku kembali tumpah, pertahananku runtuh.

“Ya, aku tahu.”

“Aku mencintaimu.”

Tidak, Sehun. Jangan katakan itu lagi. Kau membuatku semakin susah melepaskan rasa ini dan aku benci. Benci ketika lagi-lagi airmataku yang harus jatuh, tepat mengenai hatiku, jantungku yang berdebar cepat. Benci ketika aku tak dapat mengingkari semuanya.

“Ya, aku tahu.”

Hanya itu, dan Sehun mengakhiri teleponnya dengan kata,

“Tidak ada yang salah dengan hubungan ini.”

Malam ini terasa amat panjang. Bintang lihati diriku yang rapuh dari balik tirai jendela, bermandikan airmata, aku memeluk bantal dan melampiaskan segalanya. Menganggapnya Oh Sehun-ku yang sebentar lagi mungkin akan terpisah dariku. Oh Sehun yang tak dapat kupungkiri tetap kucintai meski hardikan Ibu telah menyerangku. Oh Sehun, cinta terlarangku namun aku bersyukur memilikinya. Bagaimana caraku mengatasi hari esok, Tuhan?

***

Terkadang takdir terasa berat. Ketika aku putuskan cuti kuliah sementara waktu, tidak kembali ke apartemen lamaku dan menyendiri di kamar berhari-hari. Keluar hanya untuk makan saja. Semua terasa sulit ketika aku harus me-reject panggilan dari Sehun atau sekedar mengacuhkannya hingga justru airmataku sendiri yang tumpah. Setiap malam berlalu dengan lambat, di mana mataku melihat balkon dan bayangan Sehun tertawa, tersenyum, mendekapku, semuanya berbaur menjadi satu, berhasil memburamkan pandanganku. Hatiku sakit, nyeri terasa menyayat tapi apa yang bisa kulakukan?

Aku tidak menghitung berapa airmata yang tumpah hingga senja itu dia datang. Menerobos jendelaku, aku tidak tahu harus berkata apa ketika pelukannya kembali membawaku. Pelukannya yang menenangkan dan mampu membuat pipiku bersemu.

“Lepaskan, Sehun. Kau tahu semua ini salah. Ak—” Dia mendekapku semakin erat dan bergumam menyuruhku diam sebentar.

“Aku tahu semua ini salah. Tapi bagaimana jika aku tidak bisa melupakanmu? Aku mencintaimu, bagaimana? Mengapa semuanya menganggap rasa ini salah?”

Mengapa. Aku juga selalu mempertanyakan itu setiap malam, Sehun. Bagaimana aku bisa menghentikan tangisan yang keringkan airmataku ketika aku mencoba melepaskanmu. Maka tak ada pilihan lain, aku memeluk tubuhnya erat, menghirup dalam aroma parfumnya yang menjadi candu, merasakan kehangatan melingkupiku.

“Sehun, aku… harus ke kamar mandi.”

Itu alasanku semenit kemudian. Sehun mengangguk dan memberiku celah untuk keluar dari pelukannya yang menghanyutkan. Aku melangkah sedepa demi sedepa, hingga kembali berbalik badan. Kembali memeluk erat Oh Sehun dan berharap aku tidak lupa pelukan ini. Menyempatkan mencium pipinya dan dia tertawa. Aku hanya tersenyum sebelum menuju kamar mandi dan menutupnya.

Maafkan aku, Sehun.

            Jika semua berawal di senja hari, maka semua juga harus berakhir di sini.

            Aku mencintaimu, itu mutlak. Aku tidak tahu nantinya Tuhan akan memasukkanku ke dalam neraka atau bagaimana. Tapi aku tidak peduli.

            Satu yang harus kau ingat. Oh Sehun, hanya nama itu yang mengisi relung hatiku.

 

Mungkin ketika Sehun merasa ada yang janggal dengan kamar mandi ini, dan kemudian mendobraknya, ia akan menemukan hal terumit dalam hidupnya. Aku tahu kau mencintaiku, tapi hanya dengan cara ini kau bisa melepaskan aku. Jangan mengharapkan aku lagi, Oh Sehun. Kenanglah aku, tapi lupakan tentang kita.

Di senja hari cinta kita bersemi.

            Dan di senja hari pula, aku akan mencintaimu tanpa batas. Tanpa larangan. Tanpa himpitan.

Aku tidak ingat apapun selain secuil suara yang terdengar dalam telingaku. Entah itu semu atau nyata.

“Mereka bukan sepupu nyata. Sehun tidak bermarga Oh. Dia anak angkat.”

THE END

Advertisements

5 Comments

Add yours →

  1. ASTAGAAAA…
    butuh sequel chinguuuu, super sekali ceitanyaaa 😀

  2. udah bunuh diri baru ada fakta kalo sehun cuma sepupu anggkat -_-
    ini perlu jadi series kaya-nya hahahaa seruuu sehun romantissss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

@EnglishTips4U

Indonesia's first and only Twitter-based English learning portal

thedrabble.wordpress.com/

Shortness of Breadth

Flying NC FanFiction

Wild Imagination for Adults

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia dan Lainnya

Goresan Literasi

Tempat bernaungnya jejak-jejak karya untuk mengabadi.

Monolog Tan Panama

...datang dini hari, pergi sebelum pagi...

Macaroon Seoul

To write is like making a macaroon; put an effort on it, and the taste'd worth

Cerita Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

Never Danced Before

We Dance, We Laugh, Then We Dance Again

Twelveblossom

“Every story contains a secret–even the writer doesn't always know what it is.”―Carla H. Krueger

Miniatur Jenderal

Ini bukan cerita cinta

Storm on the Horizon

Crumbled Mind, Midnight Thoughts, & Rambled Words.

Hello phyokyo!

Make your imagination in my world!

trashy treasure

I'll keep it classy, never trashy, just a little bit nasty

Pretty Little Mind

come away, o human child!

The Clown's Crown

"We write to live forever," you said.

Classic Dream

A Blank Space of My Art, Love, and Dream

Art Fantasy

We Fulfill Your Request

%d bloggers like this: