[Resensi] Film: Bulan Terbelah di Langit Amerika

Film-Bulan-Terbelah-di-Langit-Amerika-200x290

Menyatukan Lagi yang Terbelah Sebelum Kembali Terbelah

 

Judul                            : Bulan Terbelah di Langit Amerika

Sutradara                    : Rizal Mantovani

Penulis Novel             : Rangga Almahendra & Hanum Rais

Penulis Skenario       : Rangga Almahendra & Hanum Rais

Produser                      : Ody Mulya Hidayat

Pemain                         : Acha Septriasa, Abimana Aryasatya, Nino Fernandez, Rianti Cartwright

Rating Film                  : 8.13 / 10 dari 40 ratings

Peresensi                    : Niswahikmah

 

Setelah menyukseskan pagelaran perfilman dengan film berjudul 99 Cahaya di Langit Eropa, duo penulis Rangga dan Hanum kembali hadir dengan karya menarik mereka: Bulan Terbelah di Langit Amerika. Masih dengan tajuk yang sama, yaitu tentang keislaman, dikupas satu kalimat inti yang menjadikan keseluruhan cerita memiliki kesan mendalam.

 

Akankah dunia ini lebih baik tanpa adanya Islam?

 

Begitu terdengar akan langsung mencengangkan sekaligus membuat penasaran. Film ini masih mengisahkan perjalanan pasangan yang bernama sama dengan penulisnya, Hanum dan Rangga, di negeri orang. Yang membuat lebih menarik daripada 99 Cahaya di Langit Eropa adalah tugas yang keduanya emban di sana. Hanum dengan berita yang harus dibuatnya, dan Rangga harus datang untuk mewawancarai seorang tokoh terkenal di sana.

Film ini memiliki tautan dengan novel lainnya, yaitu karya Ahmad Fuadi berjudul “Rantau 1 Muara” yang termasuk dalam trilogi “Negeri 5 Menara”. Kesamaannya yaitu adanya pembahasan tentang kejadian kemanusiaan di Amerika yang dinamai tragedi 9/11. Tragedi yang menggemparkan itu terjadi di WTC (World Trade Center) bertahun-tahun silam.

Hanum memiliki tugas untuk membuat artikel dengan tajuk pertanyaan seperti di atas. Untuk keperluan itu, ia harus menemui Julia Collins dan Sarah Hussein, dua orang ibu-anak yang telah ditinggalkan suaminya dalam tragedi itu. Bukan main-main, mereka telah dianggap teroris karena semua orang Amerika mengira suaminya yang seorang muslim adalah orang yang meletakkan bom untuk meledakkan WTC. Kecaman demi kecaman diterima oleh keluarga itu, hingga mereka bahkan menolak permintaan wawancara dari Hanum, pada awalnya.

Selain itu, ia juga harus menemui Michael Jones, seorang yang menolak pembangunan masjid di Ground Zero, tempat monumen tragedi kemanusiaan itu. Ia bahkan mengecam umat Islam sebagai teroris dan membuat demo besar-besaran agar pembangunan masjid itu berhenti.

Berbeda lagi dengan petualangan Rangga, yang harus mewawancarai Phillipus Brown. Seorang filantropi yang peduli pada anak-anak Timur Tengah yang terkena tekanan perang. Setelah berkali-kali kesulitan, akhirnya Rangga bisa menghadiri pidato umum Phillipus Brown dan mendapat fakta bahwa suami Julia Collins bukanlah teroris. Justru suaminya—Ibrahim Hussein—lah yang menyelamatkan banyak orang yang terperangkap ketika pesawat menabrak WTC.

Film ini bukan hanya berkisah tentang arti kebanggaan ber-Islam di negara yang telah mencap Islam sebagai teroris. Lebih dari itu, banyak nilai moral yang tersampaikan tentang cinta, kebersamaan, tanggung jawab, dan pantang menyerah. Apalagi, ada sisipan kisah tentang Stefan, teman Rangga, yang mendapat penyesalan di akhir karena tidak mau membangun komitmen berupa “pernikahan”.

Bulan Terbelah di Langit Amerika cocok untuk ditonton semua umat muslim dan orang-orang yang masih mengira Islam adalah agama teror. Padahal, dunia tanpa Islam berarti dunia tanpa kedamaian. Islam-lah yang telah menjaga kedamaian itu tetap melingkupi seluruh dunia ini. Dan, sejarah mencatat bahwa semua teroris bukan beragama Islam, namun atheis.

Sedikit tambahan, kekurangan dari film ini adalah dipakainya aktris Rianti Cartwright yang notabene beragama Kristen (murtad) untuk menjadi pemeran Azima / Julia Collins yang berhijab. Selebihnya, film ini membangun keteguhan di hati Muslimin dan meruntuhkan fakta keji tentang umat Islam.

Karya bagus yang tidak boleh hanya teronggok di dalam negeri, tapi juga harus melenggang ke luar Indonesia.

Advertisements

5 Comments

Add yours →

  1. Menarik ulasannya, bikin penasaran pengin nonton. Ada unsur romance gak ya di film ini? Sepertinya unsur politiknya lbh dominan, hehe

  2. Ini telat bgt, oke gpp
    aku suka sama ulasannya bikin penasaran.

  3. Niswa haloooo!! Lama ya belum berkunjung ke Peraduan Senja-mu lagi. Uh, banyak ketinggalan tulisan dan ulasan menarik aku ini. Huhu. Anw, jujur aku baru baca novelnya kemudian baru tahu kalau novelnya udh difilmkan awal tahun ini. Payah banget aku emang, heung. Dan, melalui resensimu aku jadi pengin nonton versi filmnya terus dibandngin sama novelnya sendiri.
    Ulasan yang menarik, Niswa! 🙂 lanjutkan, Dear!! 🙂

    • Haloo kak xian ^^ uaaah bagus banget namanya, Peraduan Senja xD ((langsung jatuh suka pas pertama baca))

      Ah nggak papa, aku juga jarang banget nongol di blog kakak. Kemarin ninggal like doang pas baca postingan ‘Hai, xian’-nya soalnya udah ngantuk.
      Mmm, kalo uda baca novelnya ya mudah-mudahan nggak kecewa baca filmnya. Soalnya ada beberapa yang di-cut. That’s why aku milih nonton filmnya dolo :’) but still, bikin nangis despite of the chara. Makasih udah mampir kak, keep writing too!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

@EnglishTips4U

Indonesia's first and only Twitter-based English learning portal

thedrabble.wordpress.com/

Shortness of Breadth

Flying NC FanFiction

Wild Imagination for Adults

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia dan Lainnya

Goresan Literasi

Tempat bernaungnya jejak-jejak karya untuk mengabadi.

Monolog Tan Panama

...datang dini hari, pergi sebelum pagi...

Macaroon Seoul

To write is like making a macaroon; put an effort on it, and the taste'd worth

Cerita Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

Never Danced Before

We Dance, We Laugh, Then We Dance Again

Twelveblossom

“Every story contains a secret–even the writer doesn't always know what it is.”―Carla H. Krueger

Miniatur Jenderal

Ini bukan cerita cinta

Storm on the Horizon

Crumbled Mind, Midnight Thoughts, & Rambled Words.

Hello phyokyo!

Make your imagination in my world!

trashy treasure

I'll keep it classy, never trashy, just a little bit nasty

Pretty Little Mind

come away, o human child!

The Clown's Crown

"We write to live forever," you said.

Classic Dream

A Blank Space of My Art, Love, and Dream

Art Fantasy

We Fulfill Your Request

%d bloggers like this: