[Opini] Abdullah vs Takeshi: Film yang Kontradiktif Bagi Umat Muslim

Cover-Film-Abdullah-dan-Takeshi

Abdullah vs Takeshi: Film yang Kontradiktif Bagi Umat Muslim

 

Akhirnya, saya kembali beropini setelah sekian lama cuma bisa mengeluarkan kata-kata galau sampai sajak yang membuat miris hati. Kali ini, saya akan memperbincangkan sedikit soal kandungan yang ada di dalam film terbaru yang dibintangi Kemal Pahlevi dan Dion Wiyoko sebagai aktor utamanya: Abdullah vs Takeshi. Dari segi judul, film ini mengangkat judul yang sama sekali tidak menarik, namun menang di segi penilaian yang langsung begini: “Pasti komedi nih.” Karena memang benar, seperti itu nyatanya. Keunggulan lain ada di pemainnya, ya coba siapa fans-nya Kemal yang tidak rela nonton ini film?

Meskipun saya amat sangat tidak tertarik, terpaksa juga nonton film ini karena tugas Sastra Indonesia yang mengharuskan saya membuat review film. Lumayan juga, karena di kota saya dan di bioskop tempat saya nonton, Kemal dan Indah (si pemeran cewek) sedang melakukan Meet and Greet. Lah, pantas saja bioskopnya lumayan ramai hehe.

Berbekal ketidaktertarikan saya sendiri, niatnya pas sudah sampai tempat duduk, saya mau tidur saja yang pulas. Nanti kalau sudah selesai filmnya, saya bangun terus tanya teman isi filmnya apa. Tapi, karena gemuruh suara tawa terus-menerus terdengar, akhirnya saya nggak fokus tidur lagi. Alhasil, saya tonton saja, dan saya tidak ikut ketawa (karena humornya menurut saya terkesan dipaksakan—well, selera humor saya mungkin melangit, ehehe).

Malah, saya merasa beberapa unsur humor itu terkesan menjatuhkan nilai Islam. Dan, menurut pendapat saya, ini merupakan doktrin yang ditanamkan diam-diam oleh “orang di balik layar” untuk umat non-muslim supaya percaya bahwa agama Islam bisa dipelesetkan jadi parodi. Bahkan, orang Islamnya sendiri tertawa-tawa melihatnya (kecuali saya, saya malah mengerutkan kening, terus laporan ke orangtua saya bahwa filmnya tidak mendidik).

Apa saja, sih, adegan yang menurut saya “mendoktrin” itu? Ini nih:

  1. Adanya perseteruan antara restoran Arab milik bapak Abdullah dengan restoran jepang milik bapak Takeshi. Di sini, bapak Abdullah sengaja memasukkan kecoa ke dalam makanannya sendiri dan menuduh dapur bapak Takeshi-lah yang tidak bersih. Menurut saya, ini sebagai doktrin bahwa Islam seringkali menuduh orang yang tidak bersalah, bahkan melakukan cara-cara yang tidak halal dalam menjalankan bisnis. Ya, saya tahu, kenyataannya banyak orang Islam yang seperti itu, tapi mengapa gambarannya bapak Abdullah adalah orang yang berjenggot dan punya tanda sujud di kening? Bukankah yang melakukan praktik seperti itu justru orang yang tidak paham keislamannya?
  2. Ketika Abdullah mengajak Indah ke club tersyariah. Maksudnya apa? Jadi, karena orang muslim tidak memperbolehkan adanya clubbing, lantas dipelesetkan seandainya orang muslim yang clubbing, mereka pakainya baju muslim, berkerudung, makannya nasi kebuli dan minumnya air putih? Lalu lagunya nasyid atau nyanyian Arab? Naudzubillah, tidak adakah humor yang lebih patut buat diangkat?
  3. Saat anak buah bapak Abdullah menyerang restoran jepang milik bapak Takeshi. Jelas ini yang paling utama. Di sini, diceritakan bahwa akhirnya bapak Abdullah meminta anak buahnya menyerang restoran jepang bapak Takeshi karena kalah persaingan dagang. Bahkan, digambarkan penyerangan ini menggunakan senapan laras panjang, dan mereka yang melakukan penyerangan menggunakan sorban serta baju gamis. Apa maksudnya jika bukan semakin mengobarkan doktrin bahwa “umat Islam umat teroris”?

 

Ya, baiklah, sesudah opini saya di atas yang begitu menggebu-gebu, mungkin ada yang bilang “Anda berlebihan” atau “Ini ‘kan hanya komedi, untuk lucu-lucuan”. Silakan saja jika kalian (read: umat muslim) mau agama kalian dijelek-jelekkan dengan cara seperti itu. Kalau saya, sih, maaf saja, tidak. Saya pikir dengan menuliskannya mungkin jadi ada banyak pihak yang lebih rasional dan tidak menelan mentah-mentah apa yang ada dalam film itu.

Doktrin itu dimasukkan ke dalam otak orang-orang tanpa disadari, supaya orang muslim oke-oke saja, diletakkanlah dengan label “komedi” atau “parodi”. Kalau pendapat saya sebagai muslim, bercanda itu boleh, tapi ada kadarnya. Dan, apakah sesuatu semacam agama boleh dibuat bercanda? Tentu tidak. Hal-hal di atas menurut saya pantas masuk ancaman SARA.

Oke, terlepas dari itu semua (karena saya berusaha jadi penonton yang objektif), jalan ceritanya cukup seru dan mengejutkan. Saya kira hanya akan ada candaan-candaan tidak penting sampai akhir film, tapi ternyata ada unsur kekeluargaan, yang menurut saya boleh jadi bisa diambil hikmahnya. Tapi, alangkah baiknya, apabila pengemasan komedinya ditinjau ulang. Karena jelas bisa membuat tersinggung beberapa pihak. Iya kalau yang tersinggung saya, hanya bisa menulis. Lah kalau sampai ada yang melaporkan sebagai pencemaran nama baik, bagaimana?

 

Anda penasaran dengan filmnya? Silakan ditonton, tapi ingat, gunakan kesadaran berpikir, rasionalitas, dan iman yang kuat. Supaya tidak mudah terdoktrin, apalagi jadi mengiakan bahwa agama Islam memang seperti itu.

 

Sekian.

 

Salam hangat,

 

Niswahikmah

Advertisements

14 Comments

Add yours →

  1. huwaa seriusan isinya kayak begitu? serem juga. well aku bukan penggemar kemal krn leluconnya kadang trlalu ofensif, jadi ya aku ga kaget kalo dia main film begini… tapi utk poin dua dari tiga poin yg kamu tulis di atas, kukira sih gapapa ya, maksudku ya itu mah namanya bukan clubbing, tapi ngumpul biasa (‘club’ kan bisa berarti ‘berkelompok’, jadi maksud si penulis filmnya mungkin ‘berkumpul ala orang Islam’ yg memang wajarnya seperti itu. masalahnya clubbing sdh terlanjur berarti negatif sih. gatau lagi kalo aku liat filmnya langsung kyk gimana reaksiku. barangkali kalo settingnya di bar ya itu baru ofensif tapi klo settingnya di rumah biasa, saya santai).
    anyway, dgn sebegitu ‘kerasnya’ lelucon yg menyerang ini, aku heran masih ada org yg bisa ketawa… sekali lagi, aku ga tau aku bakal ketawa juga atau ga waktu nonton filmnya, kemal toh lucu kadang2, tapi kalau udah gini sih keliatan banget ‘nyerangnya’.
    atau mungkin kamu menulisnya memang dgn perasaan ga enak, sehingga tertuanglah kekesalanmu ke sini yg menyeretku (yg tdk terlalu religius ini) ikut kesel dan membayangkan filmnya jadi jelek sekali.
    ah, random rant lagi. keep writing aja deh nis, aku suka tulisan2mu, fiksi maupun bukan.

    • Kalo yang clubbing itu setting-nya kaya club kak, malah ada kelap-kelipnya juga gitu. Tapi bajunya pake baju muslim gitu deh -_- emang dikemasnya lucu sih kak, makanya bagi yg ga paham kemana menjurusnya ya pasti ketawa terpingkal-pingkal. Tapi aku pas nonton yaa gitu deh, sadar parah kalo itu ngehina. Beberapa temenku jg ada sih yg nyadar, terutama yg seorganisasi sama aku.
      Hehe iyaa makasih komentarnya kak li ❤

  2. Yue berusaha baca tulisanmu ini sambil nyantai, Nis, karena malam minggu tidak baik kalo emosi, tapi….,tetep aja ujung-ujungnya Yue terpaksa muter Almost Easy nya A7X biar gak kelepasan teriak2 sendiri.

    /tarik nafas, buang nafas/

    Jujur ya, Yue bukan penggemar film negeri sendiri, sebagus apapun film nya, Yue lebih milih baca novelnya kalo film itu based on novel, apalagi yang gak based on novel, gak bakal ditonton. Bahkan waktu Laskar Pelangi dirilis dulu, Yue harus diseret sama temen2 sekelas supaya mau ikut ke bioskop.
    Jadi, pas Yue baca review ini, Yue harus googling sinopsis film beserta para pemainnya. hehehe, biar paham jalan ceritanya.

    Dari poin2 adegan doktrin yang kamu jabarkan itu, Yue setuju banget kalau adegan2 itu memang tidak seharusnya menjadi bagian dari film yang tayang di negeri dengan mayoritas penduduk beragama Islam.
    Gak tahu kenapa ya film2 seperti ini bisa lolos dari sensor KPI.

    Dan setelah membaca sinopsisnya, Yue tambah gak paham, kenapa mereka harus mengangkat budaya Arab dan Jepang yang sama sekali gak ada hubungannya dengan perjuangan mendapatkan hati seorang wanita.
    Kayak terkesan dipaksain gitu. Kalo misalnya judulnya diganti Kim Jongin VS Wu Yi Fan, dimana dua bayi yang tertukar itu dibesarkan oleh keluarga berkebudayaan Korea dan China, kayaknya gak akan mengubah inti dari cerita itu, yaitu persaingan untuk mendapatkan hati si Indah dan perjalanan menemukan keluarga asli mereka.

    Ah, Yue jadi ikutan emosi kan,
    hahahaha.
    maafkeun komentar Yue yang terlalu pake perasaan ini ya, Nis.
    Keep writing, Niswa. 🙂

    • Nah, iya juga ya…. aku baru nyadar ini kak, kenapa juga mereka mesti pake arab vs jepang. Trus ending-nya lo ya gaada yang mendapatkan si indah, terus apa maksud judul “Abdullah vs Takeshi”? Hoalah gapaham deh aku xD

      Untung aja tugasku bikin sinopsisnya aja bukan resensi. Kalo resensi bisa2 aku tulis sepanjang rel kereta api nanti kekurangannya xD trimakasih kembali sudah mau baca kak yue ^^

      • Iya??? Beneran endingnya gak ada yang dapetin Indah??
        wahahahahahahahahaha,
        Ini baru yang bikin Yue ketawa. XD
        Nyesek ya. 😀

        Mungkin si Indah sadar kali ya, kalo Kemal dan Dion masih kalah ganteng sama Luhan. hahahahahahahahahha.
        /Itu mah kamu, Yue/ 😀

        Oke, sama2 Niswa. 🙂

  3. Reblogged this on KM3's Jannah and commented:

    Mengenai sindiran tegas terhadap produksi film Indonesia. Bacalah dengan kepala dingin.

  4. Ahsan Abdillah May 19, 2017 — 11:28 am

    Alhamdulillah , after read this blog, make me know if the film is so bad, thank you so much…. (gan tolong koreksi bahasa inggris saya , saya lagi belajar , kalo ada yang salah mohon di komen HeHe…:)

  5. Saya setuju dengan opini ini.

  6. Saya setuju dengan mbak Niswahikmah. Awal saya kira film ini lucu tapi film ini mengecewakan.

    • Filmnya sedang tayang di TV nih sekarang. Hehe iya memang mengecewakan. Sayang sekali kok sampai lolos sensor. Terima kasih sudah mampir, anyway. Salam kenal, ya.

      • saya juga barusan nonton di tv dan kesel banget kenapa kok kayak melecehkan Islam banget. bahkan bukan cuma yang ditulis di atas. banyak celotehan-celotehan dari keluarga arab yang merendahkan Islam. kata-kata “dasar kafir” dimana banyak orang berpikir Islam mudah mengkafirkan orang padahal secara makna orang nonis memang kafir karena ga beriman pada Allah dan Rasul tapi bukan berarti semudah itu ngatain orang kafir, ada juga dialog “ana gamau percaya sama hasil tes DNA, percaya itu sama Allah, kalo ngga ana musyrik” tapi beberapa saat kemudian bilang “ana percaya sama kamu indah” maksudnya apaa -__- dan masih banyak yang lainnya.
        selesai nonton akhirnya coba cari kritik tentang film ini dan ketemu tulisan ini. tapi sedih juga karena ga banyak yang kritik filmnya

      • udeh 2x pelem ini tayang (di stasiun yg sama = S#TV) kok malah kyk disengajakan diputer berulang kali dalam waktu berdekatan, padahal pelemnya menjijikan banget, itu kalo buat muslim..

        buat yg bukan muslim pelem ini ya sampah… lucu kagak muak iya, kecuali memang kalau benci umat islam atau ada agenda tertentu sampe2 diputer berulang kali dalam waktu berdekatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

@EnglishTips4U

Indonesia's first and only Twitter-based English learning portal

thedrabble.wordpress.com/

Shortness of Breadth

Flying NC FanFiction

Wild Imagination for Adults

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia dan Lainnya

Goresan Literasi

Tempat bernaungnya jejak-jejak karya untuk mengabadi.

Monolog Tan Panama

...datang dini hari, pergi sebelum pagi...

Macaroon Seoul

To write is like making a macaroon; put an effort on it, and the taste'd worth

Cerita Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

Never Danced Before

We Dance, We Laugh, Then We Dance Again

Twelveblossom

“Every story contains a secret–even the writer doesn't always know what it is.”―Carla H. Krueger

Miniatur Jenderal

Ini bukan cerita cinta

Storm on the Horizon

Crumbled Mind, Midnight Thoughts, & Rambled Words.

Hello phyokyo!

Make your imagination in my world!

trashy treasure

I'll keep it classy, never trashy, just a little bit nasty

Pretty Little Mind

come away, o human child!

The Clown's Crown

"We write to live forever," you said.

Classic Dream

A Blank Space of My Art, Love, and Dream

Art Fantasy

We Fulfill Your Request

%d bloggers like this: