[Chaptered] Reversion of You (5)

prequel of HunZee Series & Loved Without Coupled

Mungkin, awalnya Chanyeol hanyalah teman dari jurusan Seni yang mampir begitu saja dalam hidupnya. Tapi, sejak ia menyibak luka itu dari mata ceria Chanyeol, lelaki itu terlalu sederhana untuk disapa ‘teman’.

***

previous chapter

Fifth Page

Lagi-lagi dia tersentak bangun. Jam berdetak mengabarkan waktu masih pukul dua dini hari. Dinding-dinding di ruangan itu terasa menakutkan. Dipeluknya dirinya sendiri erat-erat. Demi menghilangkan sensasi melilit di perutnya akibat lonjakan emosi, ia memejamkan mata sambil menarik-buang napas. Berharap sugesti-sugesti yang ia masukkan dalam hati berguna.

Semenit berlalu, namun cara itu belum mempan. Coba semenit lagi, tetap gagal. Lantas diputuskannya melirik pada nakas. Di laci nakas itu ada dua pilihan; menelan pil pahit lagi atau melukai salah satu kakinya. Tangannya sudah terkena sasaran dua hari yang lalu, ia takkan tahan melukai boroknya sendiri. Sebelum menimbang-nimbang pilihan lebih lanjut, ponselnya berdering.

Dua kali deringan, ia masih mematung. Dering ketiga, barulah ia tersadar dari lamunan dan menerima panggilan dari seberang.

“Ha-halo.”

Hening. Ia melengos; sudah pasti tertekan bantal dan panggilan itu tidak sengaja dilakukan. Hendak mematikan saat terdengar gemerisik dari ujung sana—disusul suara pemanggilnya.

“Kau terbangun juga?”

Rasa-rasanya, ini kali pertama Chanyeol menarik napas selega ini sejak dua hari terakhir. Mimpi-mimpi yang terus datang lagi dan lagi. Embusan napas terpaksa. Gerak tubuh gelisah. Keringat yang bercucuran selepas terbangun. Sesak di dada.

“Kau mau mendengar sesuatu, Zy?”

Gadis di ujung telepon tertawa. “Bagaimana kalau kau mengubah panggilanmu? Aku terdengar seperti kekasih Oh Sehun yang entah bagaimana keadaannya sekarang.”

“Oke, Liz-a, kau mau dengar sesuatu?” ulang Chanyeol setelah mencari-cari panggilan yang tepat.

Di seberang sana, Lizzy tersenyum. Panggilannya terdengar menyenangkan di telinga.

“Kupikir kau tidak suka menyanyi.”

Chanyeol terkekeh pelan. Ia menyibak selimut dan melangkah ke balkon apartemennya. Kota Seoul sepi, namun masih dilintasi satu-dua mobil berkecepatan sedang.

“Ini lebih menarik dibanding sekadar syair lagu.”Hanya terdengar gerungan Lizzy dari sana. Ia siap mendengarkan.

***

Jika ini dongeng, ia akan memulai dengan ‘pada suatu hari’. Namun, ini kisah nyata, bukan dongeng. Hari itu benar-benar terlahir seorang bayi mungil dari rahim ibu muda, di tengah jeritan sang ayah dan bantingan botol minuman keras. Ibu itu memotong sendiri tali pusat bayinya yang menghubungkan dengan ususnya. Sang bayi hampir saja mati jika ibunya tidak segera berlari ke kamar mandi dan menguncinya. Tangisannya terdengar sampai keluar, membangunkan sang ayah yang sudah setengah pingsan karena mabuk dan emosi yang berbaur di sistem tubuhnya. Bayi itu sudah mati jika sang ibu tidak menggunakan seluruh jiwa raganya untuk menahan pintu sampai suaminya terkulai lemah akibat rangsang alkohol.

Tentu, bayi itu tidak terlahir di keluarga yang bahagia. Bukan hanya cerita klasik soal ayah yang suka berjudi dan minum minuman keras, ibu yang tak berdaya karena tidak pernah terlibat pernikahan secara resmi atas nama negara, namun juga kondisi kejiwaan tak stabil milik pasangan itu.

Suatu hari, ketika akan mengantar makanan ke kamar ibunya, ia diseret oleh sang ayah. Tubuhnya dijungkalkan ke jalanan dan hampir tertabrak mobil pick-up. Sejak saat itu, ibunya yang selalu bermata cekung dan berpipi tirus mengurungnya di kamar belakang yang sesak. Suara yang terdengar di sana hanya pecahan kaca dan teriakan-teriakan kesakitan. Apa pun yang sedang dilakukan ayah dan ibunya selalu berakhir dengan kekerasan, disusul dengan tawa terhibur milik sang ayah. Ia ingat cerita ibunya bahwa di saat ia masih enam bulan, ayahnya yang tidak pernah menginginkan kehadiran bayi itu meninggalkannya di tengah rel kereta api, hampir terlindas kereta kalau saja tidak ada petugas rel yang melihat gerakan lemah kakinya yang menjejak ke udara.

Teriakan, seruan, bentakan, pukulan, makian adalah makanan sehari-hari anak itu. Semakin ia bertumbuh, semakin hancur tatanan emosinya. Ada kalanya teriakan itu berhasil tersumbat hanya dengan tangan yang ia gunakan untuk menutupi kedua telinga. Ada saatnya pula semua hardikan dan bentakan itu tidak pernah bisa hilang. Sejak saat itulah, ada mimpi-mimpi buruk yang selalu berkelebat di dalam pikirannya.

Suatu kali, ketika usianya menginjak remaja dan ayah semakin jarang pulang, ia bertanya, “Mengapa ibu tidak pergi? Ibu telah menikahi lelaki gila.”

Ibunya yang semakin ringkih dan tertatih menjawab lembut, “Sayang, inilah cinta. Cinta itu pondasi terbentuknya dunia.”

Anak itu terdiam. Mata ibunya tertutup, beliau tertidur. Tidak ada kesempatan bertanya lebih lanjut. Hari itu usianya menginjak lima belas.

Keesokan harinya, ayahnya belum juga pulang. Ibunya yang tiba-tiba terlihat bugar menyiapkan beberapa makanan, mengajak piknik.

“Hari ini bunga mekar, Sayang. Kita bisa jalan-jalan melihat sakura bersemi dan makan kimbap di bawah pohonnya.” Anak itu tersenyum senang. Dadanya terasa mengembang bahagia, hilanglah sesak yang seringkali bersemayam di sana setiap malam.

“Kaubuat kimchi juga, ‘kan, Bu?”

Ibunya mengangguk riang. “Hanya itu makanan yang kausuka karena tidak dihina teman-temanmu di sekolah. Ya, ‘kan?”

Maka, hari itu ia berjalan dengan ibunya menatap pohon sakura yang diwarnai pink dan putih bermekaran. Indah sekali. Semuanya seperti awal baru bagi hidup yang selama ini selalu kelam—monokrom atau abu-abu. Sebelum malam akhirnya datang merenggut segalanya. Satu-satunya alasan anak itu bertahan adalah ibunya. Tetapi, dalam satu kedipan mata, alasan itu diambil Tuhan. Wanita itu dibebaskan dari penderitaan panjang, sementara anak itu dijebloskan dalam kubangan kenangan dan masa depan kelam.

Sehari setelah abu ibunya dibuang ke laut dan ditolak krematorium setempat karena anak itu tak punya uang, ayahnya kembali. Seringaiannya menyeramkan. Siksaannya menyakitkan. Sebulan setelah mencari berbagai macam cara, ia kabur hanya dengan membawa sisa abu ibunya. Didekapnya erat-erat botol berisi abu itu, berjanji akan menemukan krematorium yang mau menampungnya. Mulai saat itulah, luka-luka adalah makanan sehari-hari milik si anak.

Dan, ya, anak itu bernama Chanyeol.

***

“Aku tidak tahu ke mana Ayah. Rumah itu sekarang diganti dengan bangunan artistik khas kota budaya. Semua perkampungan kumuh sudah digusur,” ujar Chanyeol. Ia terdiam untuk memastikan napas Lizzy di sana. Gadis itu belum tertidur—lagipula bagaimana mungkin dengan cerita setragis itu?

“Apa margamu itu … marga asli?”

Chanyeol menjungkitkan satu sisi bibirnya. “Ada rumah yatim piatu yang menampungku beberapa tahun sebelum aku menemukan keluarga yang akhirnya benar-benar menganggapku sebagai ‘keluarga’. Dari keluarga baru itulah, aku berganti identitas. Tapi, namaku tetaplah Chanyeol, karena itu persembahan dari ibuku yang telah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkanku.” Helaan napas sejenak. “Aku yakin Ayah tidak akan mencariku. Lagipula, ia tidak pernah mengharapkanku. Ibu tidak pernah cerita alasan mereka bersama. Yang kupertanyakan sampai saat ini, cinta seperti apakah yang telah menjadi pondasi dari dunia? Cinta bodoh yang ibuku pertahankan sampai mati?”

“Yang kupertanyakan sampai detik ini, mengapa semudah ini menceritakannya padaku? Apa kau percaya aku?”

Chanyeol tertawa. “Aku memercayai ibuku sepanjang hidupku. Sepanjang pelarianku dari Ayah, aku tidak pernah menemukan ucapan serupa milik ibu tentang cinta keluar dari bibir orang lain. Cuma kau, Liz-a. Semua orang sudah telanjur percaya bahwa cinta itu virus yang tidak baik, tidak mungkin dia adalah pondasi keberadaan dunia yang kita pijaki.”

Embusan napas Lizzy terdengar lagi. Di sekitarnya terdengar gemerisik.

“Baiknya kau masuk saja ke kamar dan pergi tidur. Anginnya dingin.”

“Chanyeol.”

Yang dipanggil menggumam tanda menyahuti.

“Kaubisa masuk kamar dan pergi tidur sekarang. Anginnya sudah mengusir mimpi burukmu.”

Chanyeol tercenung. Di ujung sana, Lizzy menyeka sudut-sudut matanya. Meski tidak sampai merasakan sakit di hatinya, namun perasaan takut di seberang telepon seakan tersalur hingga ke tempatnya berpijak. Sedari tadi yang ia dengar adalah helaan napas berat, nada cemas, embusan napas pelan, serta ludah yang ditelan. Semuanya begitu jelas.

Lelaki itu mungkin lupa. Tapi, kemarin Lizzy juga menelepon tepat pukul dua. Mungkin ponsel itu tergeser sendiri atau tidak sengaja ditiduri sehingga panggilannya terangkat namun tidak ada jawaban. Yang ada hanya teriakan kesakitan, lenguhan panjang, dan dengus napas tertahan. Menunggu semenit, racauan itu mulai terdengar. Menyebut ‘ibu’, berulang kali kata ‘jangan’ dan ‘hentikan’. Chanyeol bermimpi buruk.

Urusan ini tidak pernah sesederhana mengucapkan, “Kamu akan baik-baik saja. Aku di sini.” Lizzy bahkan tidak tahu seberapa mampu ia membantu Chanyeol. Trauma itu membekas, membentuk goresan tak kasat mata.

Terlalu banyak kata-kata yang ingin tumpah, namun Chanyeol memutuskan diam. Ia memutus sambungan telepon. Mendongak, ia menemukan bintang paling terang di antara puluhan titik putih. Ia merasa menemukan tumpuan baru selain keluarga angkatnya yang ia tinggalkan demi pendidikan lanjutan.

Jalanan semakin lengang. Dua individu itu memasuki kamar masing-masing. Tertidur dengan senyuman.

to be continued.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

@EnglishTips4U

Indonesia's first and only Twitter-based English learning portal

thedrabble.wordpress.com/

Shortness of Breadth

Flying NC FanFiction

Wild Imagination for Adults

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia dan Lainnya

Goresan Literasi

Tempat bernaungnya jejak-jejak karya untuk mengabadi.

Monolog Tan Panama

...datang dini hari, pergi sebelum pagi...

Macaroon Seoul

To write is like making a macaroon; put an effort on it, and the taste'd worth

Cerita Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

Never Danced Before

We Dance, We Laugh, Then We Dance Again

Twelveblossom

“Every story contains a secret–even the writer doesn't always know what it is.”―Carla H. Krueger

Miniatur Jenderal

Ini bukan cerita cinta

Storm on the Horizon

Crumbled Mind, Midnight Thoughts, & Rambled Words.

Hello phyokyo!

Make your imagination in my world!

trashy treasure

I'll keep it classy, never trashy, just a little bit nasty

Pretty Little Mind

come away, o human child!

The Clown's Crown

"We write to live forever," you said.

Classic Dream

A Blank Space of My Art, Love, and Dream

Art Fantasy

We Fulfill Your Request

%d bloggers like this: