6 Hari Menuai Makna dengan 100 Warna (6)

JPTB IV 2016: Rawat Kebinekaan, Cegah Sektarianisme

AKHIRNYA hari terakhir pun tiba. Tanggal enam. Semalam saya tertidur lumayan larut, hampir pukul satu karena acara perpisahan dan peluk-peluk penuh tangis ditambahi swafoto tiada habis menyita waktu. Tapi menyenangkan, tentu saja. Saya yakin semalam tertidur dengan senyuman di bibir, eak.

Bangun-bangun saya kaget sekali. Pertama, saya lihat jam dan sudah hampir pukul tujuh. Kedua, rencananya saya masih mau ikut olahraga, dan tahu sudah jam segitu saya kira semuanya sudah turun dan meninggalkan saya—saya ‘kan tidak bersama teman sekamar karena Shareen di gedung F! Alhasil saking kagetnya saya langsung pakai kerudung, buka kunci kamar, lalu gedor-gedor kamar Ijah. ((Ya gitu, Jah, waktu itu aku membuatmu bingung, maafkan)). Seperti orang jet lag, saya lega sekali Faiza dan Wika masih di situ dan ternyata tidak ada kegiatan Olahraga.

Oke, saya selamat. Pertama, saya sedang kedatangan tamu sehingga kelewatan Subuh tidak masalah. Kedua, saya tidak ditinggal sendirian. Inhale, exhale. Saya pun buru-buru kembali ke kamar karena setelah ini adalah jadwal sarapan. Beberapa barang sudah saya pack tadi malam, sekarang tinggal menyelesaikan beberapa hal. Setelah beres mandi, saya segera merapikan kasur dan siap keluar dengan tas kecil seperti biasa.

Agenda hari ini adalah penutupan acara di gedung utama. Jadi, usai dari restoran untuk sarapan, kami di-briefing sejenak di Gedung Wiyata. Ada game dengan membuat jajaran kursi melingkar dua bagian. Awalnya, yang di lapisan luar lingkaran harus menjelaskan beberapa hal mengenai topik yang disuruh pada anak yang duduk di lapisan dalam. Setelah itu kebalikannya. Kami harus menjelaskan hal-hal yang sudah kami dapatkan di acara sepanjang lima hari kemarin. Untungnya, saya bawa buku catatan jadi bisa mengingat-ingat beberapa hal—toh tidak semuanya saya catat, hanya poin penting saja. Kami terus me-rolling tempat, bergeser ke kanan serta berpindah lapisan. Sampai akhirnya game dihentikan.

Selanjutnya, fasilitator memberi waktu terakhir untuk bertukar kado. Saya sudah membawa kado saya di dalam tas, sehingga tidak perlu kembali ke kamar untuk mengambilnya. Semuanya diminta untuk mengambil undian nama—terkecuali yang lupa membawa kado, seperti adik kelas saya, Piyung. Jadi, yang tidak bawa kado, ya tidak dapat kado.

Anehnya, ada beberapa anak yang tidak mendapat kado padahal membawa kado. Setelah penginterogasian ke anak-anak yang sudah mendapatkan kadonya dan tidak ada yang mengaku curang, maka beberapa anak itu mengikhlaskan kadonya begitu saja. Kado saya mendarat di tangan adik kelas saya sendiri, Ghoza. Sedangkan saya mendapat kado dari Roy, bobot barangnya agak berat, diwadahi tas kecil pula. Setelah sampai rumah, saya tahu kalau isinya adalah miniatur masjid Cheng Ho, sekarang masih saya pajang di kamar (dan saya nulis ini sambil meliriknya, hehe, terima kasih, Roy!)

Setelah acara tukar kado, kami masih ngobrol-ngobrol sebentar sembari berjalan ke gedung utama untuk acara penutupan. Itu tempat yang sama yang digunakan untuk pembukaan kemarin.

Yash! Satu kesempatan berharga lagi hari ini adalah bisa melihat Pak Menteri Pendidikan yang baru, yaitu Pak Muhadjir Effendy. Beliau memberikan pidato singkat di acara penutupan itu. Setelahnya, sesi berlanjut ke foto bersama beliau (saya tidak bisa melampirkannya karena sebagian file saya hilang, dan foto itu juga termasuk). Memori itu hangat sekali di kepala saya. Saya rasa termasuk salah satu kenangan yang tidak akan saya lupakan. Dan, tentu saja yang lebih senang adalah Deya, karena dia berhasil mendapat tanda tangan Pak Menteri di kaos jamborenya, awesome!

Seusai acara penutupan, kami masih sempat foto beberapa kali dengan teman-teman peserta. Anak-anak dari Jogja pun tidak pulang hari itu juga. Karena sekolah saya dari Sidoarjo, saya harus menyesuaikan jadwal penjemput datang. Sehingga setelah cukup berfoto dan ngobrol-ngobrol, saya segera ke kamar. Bodohnya, kunci kamar saya dibawa oleh Shareen! Saya pun lari ke bawah (padahal naik ke lantai tiganya capek banget) lagi sambil merutuk, harusnya tadi saya ambil lagi pas penutupan, duh.

Di sana, Shareen bilang kuncinya ada di anak lain (yang mana tidak begitu saya kenal dan sedang bareng sama Sekar), sampai akhirnya saya temukan anak itu sedang di dekat meja prasmanan di restoran. Alhasil, saya dapat kuncinya. Nah, ternyata ada untungnya saya ke bawah karena saya jadi dapat satu gantungan kunci gitar dari Jogja dan bisa berpamitan untuk terakhir kalinya ke teman-teman dari Pandeglang. Saya menyempatkan juga makan siang semeja dengan mereka dan bercakap-cakap, sebelum Nurul datang meminta alamat dan nomor telepon.

Setelahnya, saya buru-buru menghabiskan minuman dan pamit ke kamar lagi. Masih ada beberapa adik kelas di atas. Saya ke dalam kamar dan membereskan beberapa hal terakhir, lantas keluar lagi dan kaget waktu lihat adik kelas di depan kamar saya udah nggak ada. Kayaknya saya kurang minum Aqua hari ini 😦

Walhasil saya buru-buru pakai sepatu dan membawa tiga tas bersama saya. Satu tas baju yang paling berat, satu tas ransel yang isinya barang ringan seperti sandal, mukena, dan charger, dan terakhir adalah tas hadiah dari Roy. Asli saya pegel banget pas sampai bawah, karena ini lantai tiga yang tangganya meliuk-liuk dan saya lari-lari takut ditinggal mobil sekolah. How clumsy I am.

Tapi, pada akhirnya, saya nggak ditinggal, kok. Mobil sekolah saya masih di situ dan ada satu adik kelas saya yang masih belum sampai di mobil juga. The last second, kami akhirnya full-team dan siap berangkat. Beberapa teman dari Klaten dan Jogja yang belum pulang melambai-lambai mengantarkan mobil kami sampai gerbang. Dan, selesailah enam hari kami yang berharga.

SAYA tahu saya bukan orang yang sama lagi setelah ini. Saya akan bisa memaknai segala hal lebih baik lagi. Beberapa bulan kemudian datang undangan untuk mengikuti pelatihan jurnalisme atau fasilitator di Jakarta. Setelah mengirimkan prasyarat, saya terpilih mengikuti pelatihan jurnalisme selama tiga hari penuh. Tapi, saya tidak datang. Tapi, tanpa itu pun, saya tetap tidak akan melupakan semua teman di jambore, yang menempa saya jadi pribadi yang lebih hebat dan senantiasa ramai menghiasi hari saya di group chat dengan omongan-omongan random-nya. Just dont be quiet, Guys!

Setelahnya, pada bulan Januari akhir saya menerima kabar bahwa naskah saya diterima dan akan diterbitkan menjadi buku pada awal Februari. Beberapa kawan Jambore juga membelinya: Seandainya Ayah dan Ibu Tidak Bersatu. Saya tahu, buku itu tidak akan lahir tanpa mereka, karena itu saya mencantumkan mereka di ucapan Thanks To.

Terima kasih teruntuk seratus orang penuh warna-warni yang menghiasi hari saya selama jambore. Saya tidak punya banyak foto kalian, tapi kalian kenal dan tahu siapa saya, dan saya akan mengingat kalian selamanya. Jangan nangis! Ehehehehehe.

Jurnal ini saya akhiri. Saya tidak bisa menulis jurnal pelatihan jurnalisme karena belum mengalaminya, tapi undangan dan tulisan “Lulus Seleksi” itu saja sudah membahagiakan. Sampai bertemu di jurnal lainnya, karena saya akan mengukir kenangan di lain tempat dengan lebih banyak orang, KALIAN JUGA KAN?! SEMANGAT!!!

 

Salam sukses selalu,

Niswahikmah

Advertisements

6 Comments

Add yours →

  1. Coba kita fulltim ber-3 di jakarta, pasti jurnal nya ketulisss.. duh duh~ daebakkkk embak

  2. semoga sukses di hari selanjutnya

  3. Rizkyan Nurhakim July 7, 2017 — 11:18 am

    Baca bagian akhirnya agak merinding2 gimana gitu wkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

@EnglishTips4U

Indonesia's first and only Twitter-based English learning portal

thedrabble.wordpress.com/

Shortness of Breadth

Flying NC FanFiction

Wild Imagination for Adults

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia dan Lainnya

Goresan Literasi

Tempat bernaungnya jejak-jejak karya untuk mengabadi.

Monolog Tan Panama

...datang dini hari, pergi sebelum pagi...

Macaroon Seoul

To write is like making a macaroon; put an effort on it, and the taste'd worth

Cerita Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

Never Danced Before

We Dance, We Laugh, Then We Dance Again

Twelveblossom

“Every story contains a secret–even the writer doesn't always know what it is.”―Carla H. Krueger

Miniatur Jenderal

Ini bukan cerita cinta

Storm on the Horizon

Crumbled Mind, Midnight Thoughts, & Rambled Words.

Hello phyokyo!

Make your imagination in my world!

trashy treasure

I'll keep it classy, never trashy, just a little bit nasty

Pretty Little Mind

come away, o human child!

Classic Dream

A Blank Space of My Art, Love, and Dream

Art Fantasy

We Fulfill Your Request

Writers' Secrets

Summer is red, sea is blue. Gonna tell a secret, I'll give you a clue.

%d bloggers like this: