[WR] Writer’s Block, or Laziness?

W R I T I N G R E V O L U T I O N

Writer’s Block, or Laziness?

Di kalangan penulis, seringkali kita dengar ucapan, “Duh, nggak bisa nulis, nih, lagi WB.” atau sesederhana “Aku lagi WB.” yang mulanya saya tidak pernah tahu apa sih, WB itu? Jenis makanankah? Lantas setelah menyimak dan menyimak, saya pun tahu bahwa WB kependekan dari Writer’s Block. Mungkin disebut seperti itu karena WB adalah suatu perasaan terhalang untuk menulis karena berbagai faktor yang biasanya dikemukakan oleh penulis itu sendiri. Di sini saya akan mengupas sedikit mengenai latar belakang munculnya writer’s block sampai cara mengatasinya. Additions are allowed on comment box.

Kenapa, sih, kamu bisa kena WB?

Boleh jadi saya bilang bahwa writer’s block ini penyakitnya penulis yang paling bahaya. Selain dapat menghilangkan gairah menulis, penyakit ini bisa berakibat fatal membuat penulis berhenti menekuni rutinitas menulisnya, serius. Jadi jangan dianggap remeh, karena penyakit ini selain berbahaya bagi kesehatan menulis juga sering sekali kambuh. Lebih sering ketimbang penyakit maag. Hehe, saya lebay, okelah.

Beberapa penulis yang sharing dengan saya bilang bahwa writer’s block dapat dipicu oleh terlalu lama tidak menulis atau membaca atau melakukan aktivitas literasi. Ketika otak sudah terdistraksi ke hal lain, menulis menjadi lebih sulit karena otak tidak terbiasa dngan aktivitas menyusun kata menjadi kalimat menjadi paragraf menjadi cerita. Saat itulah, ada tembok yang menghalangi penulis untuk menulis. Apakah tembok itu adalah kesulitan merangkai kata? Jawabannya, tidak. Elaborasinya nanti.

Ada juga yang bilang pada saya bahwa writer’s block kerap kali menyerang ketika mood sedang tidak bagus. Mood yang buruk karena setumpuk pekerjaan di kantor atau hanya sekadar banyaknya tugas sekolah dan kuliah menjadi penyebab kesulitan untuk menulis sesuatu—jangankan cerita, buat bikin paragraf aja kaku masya Allah. Akhirnya, ada tembok penghalang yang membuat penulis memilih tidak menulis. Tapi, apakah tembok penghalang itu adalah kesibukan dan rutinitas? Jawabannya, tidak.

Ada juga yang kena WB karena terlalu banyak research, terlalu banyak membaca karya orang lain saja sehingga tidak lagi memikirkan untuk mengembangkan karyanya dan mulai menulis. Maka, ketika mereka di depan laptop lagi dan mulai membuat kalimat, semuanya terasa buram. Apakah salah bacaan tersebut? Jawabannya tidak.

Lantas, apa penyebab sesungguhnya?

Dapat saya bilang semua alasan-alasan yang diutarakan penulis mengapa mereka sampai merasakan writer’s block di atas hanya alibi untuk melarikan diri dari kenyataan. Bukan itu alasan sesungguhnya.

Begitu banyak penulis yang menekuni profesi lain di kehidupan nyatanya, namun mereka bisa tetap produktif menulis, bahkan menghasilkan buku. Sebut saja Ibu Sinta Yudisia yang pernah saya temui ketika seminar kepenulisan, beliau baru menulis ketika sudah punya anak, yang berarti tidak muda lagi, dan beliau seorang guru, namun beliau menghasilkan lebih dari lima puluh buku saat ini, beberapanya best seller. Ini berarti bukan kesibukan, rutinitas, pekerjaan, sekolah, atau hal-hal semacam itulah yang menyebabkan adanya tembok penghalang untuk menulis yang menuntun para penulis menuju sekat gelap bernama WB.

Mood yang buruk? Omong kosong. Begitu banyak orang-orang di luar sana yang berprofesi sebagai jurnalis dan tidak lantas dihadapkan pada mood yang selalu baik. Pekerjaan itu dilakukan setiap hari, jenuh pasti ada, mood buruk bisa hadir kapan saja. Tapi itu bukan penghalang untuk menulis puluhan artikel, belum lagi disertai deadline.

Terlalu banyak membaca? Oh, tentu tidak. Membaca adalah modal untuk penulis agar bisa menulis. Terlalu banyak membaca justru bagus. Research justru membantu penulis untuk membuat tulisannya lebih bagus lagi. Mungkin, yang lebih tepat adalah tidak segera merealisasikan bacaannya dalam bentuk tulisan, dan tidak segera membuat karya setelah research yang panjang dan menghabiskan waktu.

Dari sini, kesimpulannya, penyebab WB adalah:

  1. Malas
  2. Tidak mau membagi waktu dengan baik
  3. Kehilangan kepercayaan diri dengan tulisan sendiri\
  4. Banyak bikin alibi

Bagaimana mengatasinya?

WB memang penyakit ganas yang mematikan, tapi obatnya mudah dicari dan tidak semahal obat dari dokter yang harus ditebus ke apotek. Sepanjang saya menulis, saya juga pernah mengandalkan “wb” sebagai alasan untuk lari dari menulis, tapi itu bukan jawaban yang tepat. Maka, di sini saya merangkum beberapa tipsnya.

First of all, jangan hanya lari tapi terbanglah. Lari akan membuatmu merasa jadi orang yang buruk karena menghindari kenyataan, tapi terbang bisa membuatmu tenang dan menemukan kedamaian yang hilang. Tentu bukan terbang dalam arti harfiah, tapi dengan melakukan hal-hal yang kamu sukai—jangan lupa sambil bawa notebook atau siapkan notes di HP. Lakukan apa saja! Nonton film, main game, jalan-jalan ke pantai, main bersama teman, atau sesederhana membaca buku di sore hari sambil menyesap teh hangat. Semua itu adalah relaksasi untuk otak yang terlalu lelah dan membutuhkan penyegaran. Ingat, terbang bukan lari. Ketika sudah saatnya turun, kamu harus menulis lagi karena itulah tujuan terbang, bukan untuk pergi tapi untuk relaksasi.

Second, nulis tuh tinggal nulis, apa susahnya? Maksudnya, nggak usah mikir tulisanmu harus bagus atau harus sesuai dengan kamu yang biasanya atau harus punya ciri khas atau harus sekeren penulis yang bukunya baru kamu baca atau harus disukai pembacamu di media sosial, oh nggak usah mikirin hal sesusah itu! Cuma tinggal tuangkan apa yang ada dalam pikiranmu. Barangkali tadi siang pas kamu jalan-jalan kamu lihat anak kecil lupa naikin resleting celananya, ya tulis aja. Sikat saja semua genre yang terpampang di kepala. Tidak perlu berpikir pendapat orang, tidak perlu menyesuaikan keinginan orang lain. Just be you.

Third, ingatlah apa motivasimu nulis sedari awal dan apa target yang kamu kejar! Tidak mungkin, ‘kan, tiba-tiba kamu berhenti menulis setelah menjalankannya secara konstan sepanjang setahun, atau tiga bulan, misalnya? Kalau berniat nyebur, jangan cuma di pinggiran, sekalian renang ke kedalaman, diving snorkeling suka suka kamu. Dari awal kamu ingin menulis buat memuaskan hobi dan suatu hari kamu mengejar target buat membuat buku. Ketika wb mau menyerang, ingatlah itu tepat di hatimu. Itu akan memicu semangatmu menguap lagi. Bahkan tujuan sesederhana “pengen kaya/dapat uang dari menulis” itu adalah motivasi yang sangat besar. Ingat, kamu tidak akan sampai pada target dengan membiarkan wb bersarang! Dan, ingat lagi, ketika sudah mencapai satu per satu targetmu, jangan pernah puas untuk menetapkan target baru untuk memacumu terus menulis!

Fourth, menulislah dengan konsisten. Waktu seminar kepenulisan, saya tahu satu motto yang kira-kira begini bunyinya, “Kalau Anda sudah bisa meluangkan lima belas menit saja per hari untuk menulis, Anda adalah penulis sejati.” Kurang-lebih seperti itu. Kalimat itu rasanya langsung mencambuk saya, dan saya ingin meneruskan cambukannya kepada kalian, ehehe. Konsisten sangat membantu untuk menghilangkan WB. Seorang penulis yang punya pekerjaan lain akan sangat butuh konsistensi. Caranya gimana? Gampang kok. Cari satu waktu menulis yang menurutmu paling nyaman dan pas kamu lagi luang. Semisal, nih, setengah jam setelah shalat tahajud. Ya sudah, setiap hari menulislah di jam itu dengan konsisten. Setiap penulis punya waktu terbaiknya masing-masing, jadi cuma kamu yang bisa menentukan kapan waktu tersebut. Kalau saya, sih, sekitar pukul delapan sampai sembilan malam, dengan target membuat satu-dua cerita/artikel dengan durasi 500-1000 kata.

Fifth, pahami dirimu dengan banyak sharing dengan penulis lain. Jadi, penulis itu juga butuh komunitas. Kenapa? Karena dengan bergabung di komunitas tersebut, bisa memicunya lebih giat—apalagi kalau komunitasnya aktif mengadakan kegiatan—selain itu juga bisa curhat dengan sesama penulis dan mencari solusi untuk kesulitan yang dihadapi. Selain itu, curhat juga bisa membantu kita lebih memahami karakter diri dalam menulis. Suatu hari, ada seorang penulis yang curhat kalau dia akan lebih mudah menulis kalau travelling atau mendapat suasana yang baru. Ibu Sinta Yudisia pun bilang kalau beliau selalu memindah letak barang-barang di kamarnya atau mengubah nuansa kamar yang ia gunakan untuk menulis setiap membuat buku baru. Lalu, saya berpikir, itu juga bisa saya terapkan untuk meminimalisir kejenuhan—jika memang tidak ada waktu untuk keluar seperti poin pertama tadi. Jadi, jangan takut untuk bergabung dengan komunitas kepenulisan, mengubah suasana, dan memahami karakter diri sebagai jalan untuk membantu tidak tersangkut WB.

Last, ada tiga kata sakti yang selalu dipakai oleh salah satu penulis yang saya kenal, yakni Pak Rafif Amir, setiap kali mengakhiri sesi tanya jawab soal kepenulisannya, untuk menyemangati semua penulis yang berkumpul di situ, yakni: menulis, menulis, menulis. Intinya, untuk meruntuhkan tembok WB, kamu cuma perlu menulis. Untuk jadi penulis sukses, kamu hanya perlu menulis. Untuk itu, terus menulis adalah jawabannya. Tidak ada kata lain.

Udah kebakar belum semangatnya untuk melawan penyakit WB yang berasal dari virus males? Yuk, lanjut menulis!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

@EnglishTips4U

Indonesia's first and only Twitter-based English learning portal

thedrabble.wordpress.com/

Shortness of Breadth

Flying NC FanFiction

Wild Imagination for Adults

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia dan Lainnya

Goresan Literasi

Tempat bernaungnya jejak-jejak karya untuk mengabadi.

Monolog Tan Panama

...datang dini hari, pergi sebelum pagi...

Macaroon Seoul

To write is like making a macaroon; put an effort on it, and the taste'd worth

Cerita Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

Never Danced Before

We Dance, We Laugh, Then We Dance Again

Twelveblossom

“Every story contains a secret–even the writer doesn't always know what it is.”―Carla H. Krueger

Miniatur Jenderal

Ini bukan cerita cinta

Storm on the Horizon

Crumbled Mind, Midnight Thoughts, & Rambled Words.

Hello phyokyo!

Make your imagination in my world!

trashy treasure

I'll keep it classy, never trashy, just a little bit nasty

Pretty Little Mind

come away, o human child!

The Clown's Crown

"We write to live forever," you said.

Classic Dream

A Blank Space of My Art, Love, and Dream

Art Fantasy

We Fulfill Your Request

%d bloggers like this: