[Friend-Fic] Hadiah Kecil dari Lereng Bukit

Hadiah Kecil dari Lereng Bukit

oleh : dhila_kudou

Dalam perjalanannya menuju ke rumah sore ini matanya tak lepas dari suguhan langit senja di sisi kiri jalan. Langit berona sedikit kemerahan bekas hujan tadi siang. Awan-awan kelabu yang tadi menutupi langit perlahan memudar dan menyisakan semburat-semburat lembayung yang cantik. Diorama kota di bawah sana ikut menghiasi pemandangan membuat senja kali ini terasa begitu klasik.

Rumahnya berada di pinggang bukit jauh dari hiruk pikuk kota. Akhir pekan kali ini ia memilih pulang bertemu orangtuanya dan meminta dijemput oleh Raka, pemuda yang kini menyetir mobil untuknya. Raka membawa mobil dengan kecepatan yang cukup lambat. Pemuda berambut sebahu itu membiarkan gadis di sebelahnya asyik menikmati pemandangan di luar dengan tidak membuka sebuah obrolan. Radio sengaja dimatikan agar Risya, nama gadis itu, dapat menikmati cicitan kawanan burung yang hendak pulang ke sarang. Dia paham betul teater senja adalah segalanya bagi gadis yang disayanginya itu.

Perlahan, ia menepikan mobil di bahu jalan.

“Loh, kenapa berhenti?”

Raka tak menjawab. Pemuda itu hanya membantu Risya melepaskan sabuk pengamannya lantasmembuka pintu mobil. Risya mengernyitkan dahi sebentar, namun setelahnya ia mengikuti Raka berjalan keluar. Hembusan angin sore langsung menerpa wajahnya yang kebingungan. Seingatnya tadi Raka-lah yang bersemangat ingin segera membawanya pulang, tetapi mengapa ia malah mengulur waktu seperti ini?

Gadis itu mengikuti Raka dari belakang. Mereka menyusuri lereng bukit di sisi kiri jalan yang cukup landai dan ditumbuhi rumput semata kaki. Setelah sepuluh meter berjalan, Raka merebahkan badannya lalu menoleh ke arah gadis tersebut. Ia memberi isyarat agar Risya ikut duduk di sampingnya.

“Kok kita gak langsung pulang aja?” tanya Risya kembali.

“Kita akan menonton senja dari sini. Bagaimana menurutmu?” Raka menjawabnya sambil menyugar rambutnya ke belakang. “Matamu gak bisa bohong, Sya. Sudah berapa lama kamu gak pulang cepat dan melihat matahari terbenam, ya kan?”

Ucapan pemuda itu memang benar. Seminggu terakhir Risya disibukkan oleh persiapan dies natalis di kampusnya. Pulang kuliah ia harus mengadakan rapat atau bertemu orang-orang penting untuk kegiatan sekali setahunan itu. Ia selalu pulang dengan perasaan kecewa karena senjanya keburu ditelan langit malam.

Keputusan Raka untuk mengajaknya menikmati senja kali ini membuat pipinya menghangat. Ia menyelonjorkan kakinya di sebelah Raka sambil merapatkan jaketnya. Bibirnya perlahan membentuk senyuman.

Raka menolehkan wajahnya ke arah Risya. Seakan diperhatikan, gadis itu ikut menatap pemuda berkacamata di sebelahnya. Mata keduanya bertemu selama beberapa saat. Tak ada kata-kata yang keluar di antara mereka. Sedikit kikuk, Risya akhirnya memilih untuk melepaskan pandangan dan kembali menikmati senja.

Setengah badan matahari sudah berada di bawah horizon, tertelan oleh tingginya gedung-gedung di bawah sana. Tak perlu ponsel untuk mengabadikan momennya kali ini. Karena menurut Risya, hatinya adalah penyimpan memori terbaikjika berhubungan dengan senja dan Raka, saudara kembar yang selalu memberikan hadiah kecil yang istimewa untuknya.

THE END

 

Author’s note :

  1. Maafkan kalau ceritanya plotless, huhu.
  2. Sungguh, senja bener-bener bikin speechless sampai aku gak tahu pakai kata apa untuk menggambarkan keindahan senja itu :”
  3. Terima kasih telah menyempatkan diri membaca cerita ini 😀
  4. Selamat ulang tahun yang ke-3 untuk Sayap-Sayap Senja! Yay! Semoga tetap menyuguhkan karya-karya yang memukau seperti senja dan seisinya 😀

  • Makasih Kak Dhila sudah mengirimkan naskah untuk “Hunting Orific dan Poem”, tapi event itu enggak kuteruskan, tapiii atas partisipasi kakak, aku ada reward kecil. Silakan kontak aku untuk ambil, ya. Dan, Sayap-Sayap Senja goes to 4th anniversary.  Tunggu event menariknya, ya!
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

@EnglishTips4U

Indonesia's first and only Twitter-based English learning portal

thedrabble.wordpress.com/

Shortness of Breadth

Flying NC FanFiction

Wild Imagination for Adults

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia dan Lainnya

Goresan Literasi

Tempat bernaungnya jejak-jejak karya untuk mengabadi.

Monolog Tan Panama

...datang dini hari, pergi sebelum pagi...

Macaroon Seoul

To write is like making a macaroon; put an effort on it, and the taste'd worth

Cerita Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

Never Danced Before

We Dance, We Laugh, Then We Dance Again

Twelveblossom

“Every story contains a secret–even the writer doesn't always know what it is.”―Carla H. Krueger

Miniatur Jenderal

Ini bukan cerita cinta

Storm on the Horizon

Crumbled Mind, Midnight Thoughts, & Rambled Words.

Hello phyokyo!

Make your imagination in my world!

trashy treasure

I'll keep it classy, never trashy, just a little bit nasty

Pretty Little Mind

come away, o human child!

The Clown's Crown

"We write to live forever," you said.

Classic Dream

A Blank Space of My Art, Love, and Dream

Art Fantasy

We Fulfill Your Request

%d bloggers like this: