[Hey, You?] #Sixteen: Hanami

a series-fiction presented by Jung Sangneul

// Hey, You? //

Starring: [EXO] Kyungsoo and OC(s) {find out by yourself!}

Genre: semi-romantic, school-life, friendship

Length: Drabble-Chapter

Rating: Teenage

Summary

Hei, lelaki sendiri,

Taklukkan saja aku, tangkap hatiku, bahkan tanpa sepengetahuanmu

***

previous chapter

Sixteen: Hanami

Class meeting akhirnya selesai. Mading kami mendapatkan banyak perhatian karena ada penandatanganan petisi “Stop Bullying” di sana. Aku ikut senang melihat antusiasme yang ditunjukkan banyak murid, jadi kuharap ada semangat untuk memperbaiki diri sendiri dan lingkungan sekitar. Setidaknya, ada yang bisa diubah sepulang siswa pertukaran pelajar dari sini.

Penampilan kami tidak terlalu semarak, tapi semuanya puas karena bisa melihat kekreatifan anak Jepang menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia dan lagu daerah “Ampar-Ampar Pisang”. Sementara penonton juga disuguhi tontonan gratis melihat lidah orang Indonesia berputar-putar berusaha menyanyikan lagu kebangsaan milik Jepang. Semuanya berakhir menyenangkan.

Pada akhir acara, Ayumi datang untuk menyalami tanganku. Mengucapkan, “Maaf. Kamulah yang menang.”

Aku tertawa kecil, memeluknya dalam rengkuhan, sambil menepuk-nepuk pundaknya. Aku yakin dia tidak pernah mendapatkan ini dari teman-temannya yang lain. Sambil tetap menepuk bahunya, aku berujar, “Tidak ada kalah dan menang karena ini bukan lomba. We’re all growing up, so dont worry. Just be yourself, Ayumi. Thank you.

Dia terdiam agak lama, namun kemudian melepas pelukanku dengan rikuh untuk memandangku canggung. Ia menawarkan untuk membantu membersihkan make-up-ku dan anak-anak, aku mengangguk dengan senang hati.

Maka, pagi hari ini, aku mengirimkan cerita ke Sensei mengenai perhelatan antarkelas tersebut dengan mencantumkan satu video dan beberapa foto terpilih. Tak terasa, pertukaran pelajar hanya tinggal tersisa dua bulan lagi.

***

Hanami?

Scmith mengangguk. “Iya, semuanya sedang membicarakan topik yang sama. Tentang hanami itu.”

Hana itu artinya bunga, kalau mi?” gumamku.

“Mi diambil dari kata mite yang artinya ‘melihat’, Ai. Jadi, secara keseluruhan, artinya ‘melihat bunga’,” sahut Kyungsoo yang duduk di sebelah Scmith. Aku mengerjap beberapa kali—mengingat-ingat materi kata kerja bentuk kamus dan bentuk –te yang belum sepenuhnya kudapatkan—kemudian mengangguk paham.

“Spesifiknya, melihat bunga sakura. Bunga itu hanya mekar satu sampai dua minggu. Dan, perkiraannya, waktu pertama mekar adalah akhir pekan ini, Ai,” lanjut Elif. Dia semangat sekali karena di negaranya tidak begitu banyak pepohonan yang bisa tumbuh.

“Woah, pasti keren banget,” gumamku, tanpa sadar memakai bahasa Indonesia.

“Apa, Ai?” tanya Kyungsoo.

“Ah, tidak,” aku menggeleng, “kalau di negaramu ada juga yang sejenis ini? Ada bunga sakura juga, ‘kan?”

Kyungsoo mengangguk. “Tapi, tradisi kami agak berbeda. Kalau kamu penasaran, kita bisa datang akhir pekan nanti.”

Ah, good idea! Aku setuju. Kapan lagi kita bisa ikut festival semacam ini?” Scmith menyahut.

Elif mengangguk-angguk setuju. “Nah, kalau perlu kita undang semua siswa pertukaran pelajar.”

“Ajak Akiyama, Yuuki, dan Ayumi juga, ya,” sahutku.

“Yah, Ai, mereka orang Jepang,” Scmith terlihat keberatan.

“Tapi mereka juga teman kita. Kalau lebih ramai, lebih seru, ‘kan?” bantahku.

Kyungsoo mengangguk, menimpali, “Benar. Lebih ramai akan lebih baik, karena makanan yang bisa dibawa lebih banyak.”

“Hah? Makanan?” aku melongo.

Lelaki itu malah tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya padaku. Aku terenyak seketika. Rasanya, sudah lama jantung ini normal-normal saja. Segera kualihkan pandangan saat kusadari pipiku mulai memanas.

***

“Woaaaah, bunganya banyak sekaliii!”

Tanpa terasa, akhir pekan datang juga. Sesuai prediksi, bunga sakura sudah mekar. Warnanya yang lembut membuat semua orang tertarik untuk datang melihat. Dan, di sinilah kami; aku, Kyungsoo, Scmith, Nancy, Elif, Leonard, Kirana, Akiyama, Ayumi, dan Yuuki. Kami tidak berhasil membawa serta murid pertukaran pelajar lainnya karena mereka punya agenda lain—dan beberapa ada yang melihat sakura di tempat lain.

“Ai, ayo foto dulu! Nanti aku kirim buat dikasih ke Sensei-mu!” Kirana menarik tanganku untuk diajak selfie bersama. Aku menghela napas ketika sadar ada delapan grid foto yang harus diisi. Untung tidak sekalian bawa tongsis.

“Udah belom? Udah keabisan gaya, nih,” gerungku. Kirana nyengir, kemudian mengacungkan jempolnya pertanda ‘oke’.

Sementara Elif sibuk memotret pemandangan sekitar dan bunga-bunga sakura itu dari dekat dengan DSLR-nya. Nancy justru repot menata tikar biru (tikar khas untuk merayakan hanami) dan mengeluarkan perbekalan kami. Tentu dia dibantu oleh Akiyama dan Yuuki. Ayumi sendiri memilih memisahkan diri dengan alibi ingin melihat-lihat di area lain.

“Teman-teman, ayo berkumpul dulu! Tikar dan makanan kita sudah siap!” seru Nancy girang.

Aku yang masih terlena menatap bunga-bunga berwarna pink tersebut segera ikut bergabung.

“Jadi, ini temanya mix and match! Lihat, semua makanan dari penjuru dunia ada di sini!” Nancy terlihat sangat semangat. Ia memberi kami masing-masing sumpit dan mempersilakan untuk mencoba.

Aku berbisik pada Kirana, “Sumpah, Kir, aku masih kagok pake sumpit, padahal udah usaha dari pertama dateng ke sini.”

Kirana tergelak. Ia mengangkat sumpitnya, mengambil satu kue beras tradisional yang biasa disebut mochi, kemudian menyuapkannya padaku.

“Gigit aja, aaaa!”

“Kirana, dont make him jealous!” seruan dari Leonard membuat Kirana melepaskan mochi yang dia suapkan, membiarkanku hampir menelannya bulat-bulat.

Sementara Leonard cekikikan dan Kyungsoo memelototinya—kalau Kyungsoo melotot, dia jadi agak seram … tapi imut juga.

“Lagipula siapa yang jealous,” gerutu Kyungsoo. Semuanya tertawa, sedangkan aku masih berusaha mengunyah kue di dalam mulutku sekuat tenaga.

“Ah ya, kalau di negara kalian, adakah tradisi seperti ini?” tanya Yuuki.

Kirana menggeleng. Elif juga. Sementara Scmith dan Leonard mengaku bukan sakura yang menonjol di negara mereka, namun musim seminya ada.

“Kalau di Korea, tidak ada tradisi makan di bawah pohon sambil melihat bunga seperti ini,” Kyungsoo angkat bicara. “Kami berjalan-jalan melihat cherry blossom. Kadang mampir ke stan permainan kartu tarot dan meramal masa depan di sana. Untuk pasangan kekasih, musim semi terasa sangat romantis.”

“Aw, so sweet! Tapi, kau belum punya kekasih, ‘kan, Kyungsoo? Kasihan Aini kalau harus patah hati,” sahut Leonard.

Sungguh, aku ingin melempar mulut lelaki itu dengan sumpit. Aku tidak sepenuhnya sadar kalau waktu Leonard bilang begitu … blush. Pipi Kyungsoo juga berubah warna jadi merah muda.

—to be continued.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

@EnglishTips4U

Indonesia's first and only Twitter-based English learning portal

thedrabble.wordpress.com/

Shortness of Breadth

Flying NC FanFiction

Wild Imagination for Adults

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia dan Lainnya

Goresan Literasi

Tempat bernaungnya jejak-jejak karya untuk mengabadi.

Monolog Tan Panama

...datang dini hari, pergi sebelum pagi...

Macaroon Seoul

To write is like making a macaroon; put an effort on it, and the taste'd worth

Cerita Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

Never Danced Before

We Dance, We Laugh, Then We Dance Again

Twelveblossom

“Every story contains a secret–even the writer doesn't always know what it is.”―Carla H. Krueger

Miniatur Jenderal

Ini bukan cerita cinta

Storm on the Horizon

Crumbled Mind, Midnight Thoughts, & Rambled Words.

Hello phyokyo!

Make your imagination in my world!

trashy treasure

I'll keep it classy, never trashy, just a little bit nasty

Pretty Little Mind

come away, o human child!

The Clown's Crown

"We write to live forever," you said.

Classic Dream

A Blank Space of My Art, Love, and Dream

Art Fantasy

We Fulfill Your Request

%d bloggers like this: