[Resensi] To All The Boys I’ve Loved Before Series

To All The Boys I’ve Loved Before,

I’m Sorry I Decided to Choose Peter Kavinsky

 

Saya penggemar novel dalam negeri, namun suatu hari ketertarikan pada novel luar negeri pun mulai tumbuh ketika banyak yang membicarakan serial-serialnya. Bisa dibilang, novel luar negeri yang pertama kali saya baca adalah Twilight—itu pun versi terjemahan. Tapi, pada hari saya memutuskan meminjam buku ini dari teman saya, saya tahu Jenny Han telah membuat saya jatuh cinta pada seri To All The Boys I’ve Loved Before, bahkan lebih dibanding pada Twilight. So, here I am.

Lara Jean Song Covey, adalah gadis berdarah campuran Korea-Virginia yang tinggal di negara bagian Virginia. Saya tidak tahu apa yang menarik dari seorang gadis yang suka mengepang rambutnya dan punya hobi membuat kue, sampai terdapat penjelasan bahwa dia menyukai kekasih kakaknya, Margot, yang bernama Josh. Sampai di sini, saya masih tidak terlalu tertarik, namun lantas diperjelas lagi bahwa ia punya kebiasaan yang unik: menulis surat cinta untuk melepaskan perasaannya pada orang itu.

“To All The Boys I’ve Loved Before” mulai menarik ketika secara tiba-tiba surat cinta yang dikumpulkan Lara Jean di kotak topi hilang dan ternyata semuanya telah terkirim ke alamat penerima, yang berarti ke semua laki-laki yang pernah disukainya. Semuanya seharusnya baik-baik saja karena ia cukup menjelaskan bahwa itu adalah perasaan lampau, namun tidak, karena Josh. Dia menyukai Josh, pacar kakaknya, itu yang membuatnya merasa bersalah, dan berakhir membuat skenario gila: memacari Peter K. secara pura-pura.

Peter K., yang sebenarnya Lara Jean bahkan lupa apa singkatan dari K itu sendiri, adalah cowok populer pemain lacrosse yang pernah berpacaran dengan Genevieve, seorang sahabat di masa kecil Lara Jean. Lelaki itu termasuk dalam daftar orang yang mendapat kiriman surat, karena di kelas delapan Lara Jean memutuskan menyukainya. Dengan beberapa alasan dan kemakluman, serta akibat ulah Lara Jean menciumnya tepat di lobi sekolah, Peter K. memutuskan mengikat kontrak sebagai pacar pura-pura Lara Jean.

Selanjutnya cerita berputar antara dua insan tersebut. Alur cerita mungkin terbilang klise, karena apa yang ingin dituturkan sang penulis hanyalah bagaimana kedua manusia ini menemukan arti cinta yang sesungguhnya. Dengan usia yang baru menyentuh enam belas untuk Lara Jean, dan tujuh belas untuk Peter, keduanya masih harus mencari makna dan jati diri sendiri. Tidak ada konflik keluarga ataupun sekolah yang terlalu detail, benar-benar hanya menekankan mengenai cinta dan pertemanan, namun begitu dalam, saya tercebur dan hampir tidak bisa bernapas keluar.

“To All The Boys I’ve Loved Before” tidak selesai dengan satu seri saja. Jenny Han merencanakannya sebagai dwilogi, dengan lanjutan yang berjudul “P.S. I Still Love You”. Buku kedua lebih menarik ketimbang buku pertama, karena Lara Jean dan Peter pada akhirnya memutuskan untuk menjadi pasangan nyata, bukan lagi pura-pura. Tapi, tentu tidak semudah itu jalannya. Ada banyak lika-liku sebelum akhirnya hal itu terjadi. Spoiler, akhir bab adalah yang terbaik, terlebih karena karakter Peter menjadi lebih jelas dan banyak quotes yang saya suka keluar di sana.

Rencana sebagai dwilogi kandas ketika tiba-tiba muncul buku ketiga dari serial ini, berjudul “Always and Forever, Lara Jean”. Di halaman awal, tertulis kalimat “Untuk Pembaca”, yang berarti buku ini benar-benar didedikasikan untuk pembaca dua seri awal To All The Boys I’ve Loved Before. Di bagian ini, konflik ditekankan pada akan bermuara ke mana hubungan Lara Jean dan Peter setelah mereka lulus dari sekolah dan melanjutkan kuliah? Pergolakan batin yang sangat kentara adalah bagaimana mereka harus bertahan dengan jarak yang memisahkan dan kesibukan yang berbeda karena diterima di universitas yang berbeda?

Jenny Han mengeksekusinya dengan sangat cantik, mengakhirinya dengan sempurna, membuat saya sebagai pembaca jatuh lagi dan lagi dalam pesona hubungan dua insan ini. Tentu saja seri terakhir tidak lagi memiliki lanjutan, dan saya suka bagaiman Jenny Han mengakhirinya bukan dengan tanda titik, namun membiarkan pembaca membayangkan sendiri akhir hubungan itu di masa depan—bukan tipikal ending menggantung, tapi juga bukan ending yang berjenis “lantas mereka berdua bahagia selamanya”.

Buku ini sangat cocok untuk dibaca REMAJA, hanya remaja, karena rasa-rasanya para dewasa sudah tidak bisa dininabobokan dengan cerita fluffy dan amat romansa seperti ini, kecuali memang jika genre ini adalah fokus utama bacaannya. Saya membaca seri pertama ketika duduk di bangku kelas dua SMA dan membaca dua seri lanjutannya ketika telah lulus, so I know how Lara Jean or Peter feels.

Novel ini tersedia dalam versi terjemahan—Penerbit Spring sudah mengeksekusinya, dan terjemahannya dijamin oke, dan versi asli—saya baca dalam bentuk ebook, dan diksi yang dipakai Jenny Han tidak terlalu berat untuk dipahami orang setara saya ((yang mana belum pernah ikut ujian TOEFL)).

Warning: Lara Jean itu adiksi, tapi Peter itu candu banget untuk semua wanita. Saya tidak mau mengakuinya terlalu eksplisit, tapi sungguh, kalau kalian membacanya, kalian akan tahu bagaimana rasanya menahan seruan akibat tingkah polah Peter Kavinsky. Anyway, Peter tidak sempurna, dia banyak cacatnya sebagai tokoh fiksi, tapi melihat Lara Jean memandangnya, saya selalu bisa bilang Peter itu definisi dari perfect imperfection.

Ya, dan buku ini direkomendasikan untuk para jomblowan yang ingin baper bersama kisah cinta ala remaja, juga buat yang ingin mengenang masa-masa indah di bangku SMA. Tenang saja, baper enggak membunuh.

Sekian, selamat membaca, dan beritahu saya ya kalau ada yang overdosis dengan romansanya! 😀

Bonus quotes:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

@EnglishTips4U

Indonesia's first and only Twitter-based English learning portal

thedrabble.wordpress.com/

Shortness of Breadth

Flying NC FanFiction

Wild Imagination for Adults

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia dan Lainnya

Goresan Literasi

Tempat bernaungnya jejak-jejak karya untuk mengabadi.

Monolog Tan Panama

...datang dini hari, pergi sebelum pagi...

Macaroon Seoul

To write is like making a macaroon; put an effort on it, and the taste'd worth

Cerita Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

Never Danced Before

We Dance, We Laugh, Then We Dance Again

Twelveblossom

“Every story contains a secret–even the writer doesn't always know what it is.”―Carla H. Krueger

Miniatur Jenderal

Ini bukan cerita cinta

Storm on the Horizon

Crumbled Mind, Midnight Thoughts, & Rambled Words.

Hello phyokyo!

Make your imagination in my world!

trashy treasure

I'll keep it classy, never trashy, just a little bit nasty

Pretty Little Mind

come away, o human child!

The Clown's Crown

"We write to live forever," you said.

Classic Dream

A Blank Space of My Art, Love, and Dream

Art Fantasy

We Fulfill Your Request

%d bloggers like this: