[Chaptered] Reversion of You (6)

prequel of HunZee Series & Loved without Coupled

Mungkin, awalnya Chanyeol hanyalah teman dari jurusan Seni yang mampir begitu saja dalam hidupnya. Tapi, sejak ia menyibak luka itu dari mata ceria Chanyeol, lelaki itu terlalu sederhana untuk disapa ‘teman’.

previous chapter

***

Sixth Page

Ini sudah kali ketiga Lizzy membuka pintu di pagi hari dan melihat Zee mematung di depannya—entah sudah menunggu dari pukul berapa. Sekarang sudah pukul delapan, waktunya Lizzy berangkat kuliah. Sehun masih di atas kasur, bergulung-gulung, dan dia tadi berpesan untuk menyuruh Zee pulang saja kalau gadis itu berdiri di depan pintu lagi.

“Mau berangkat kuliah bersamaku, Unnie?” tawar Lizzy. Dua kali dia hanya menyuruh Zee pulang, namun gadis itu menggeleng kaku dan memilih menunggu sampai jadwal kuliah memutuskannya pergi tanpa sempat bertemu Sehun.

“Sampai kapan?” Zee menghela napas keras. “Aku sudah melakukan semuanya. Sehun tidak pernah sekekanakan ini. Demi Tuhan aku tidak kembali kepada Kyungsoo. Aku harus apa untuk mendapat maafnya?”

Lizzy menatap penampilan kekasih kakaknya iba. Sudah dua hari mata itu sembab. Belum lagi ditambah jemarinya yang kadang gemetar. Kotak makan di tangannya sampai jatuh kemarin karena gadis itu terlalu rapuh. Dilihat dari rambutnya yang diikat sembarangan, gadis itu pasti tidak sempat becermin sebelum melesat kemari.

Unnie, kita bisa bicara di jalan. Kau akan terlambat kalau menunggu Sehun Oppa.” Lizzy mengambil kotak makan di tangan Zee, kemudian meletakkannya di meja makan. Sambil tersenyum tipis, ia menggamit tangan Zee untuk pergi menjauhi rumah itu.

Tanpa mereka ketahui, Sehun bangun dan mengintip lewat jendela. Punggung mereka semakin menjauh. Dalam kebisuan, lelaki itu menghela napas panjang. Kotak yang diletakkan adiknya di meja makan ia buka. Di dalamnya, Zee meletakkan secarik note di atas tumpukan kue kering ber-topping choco chips.

Sehun, maafkan hatiku yang selalu membuat kesalahpahaman. Tapi sungguh, tidak maukah kau percaya bahwa aku memilihmu?

Mengerjap, Sehun mengambil kue itu dan mencobanya satu potong. Terlalu asin. Ia ambil satu lagi: terlalu gosong jadi agak pahit. Satu lagi: manis. Diam-diam ia tersenyum tipis. Zee selalu bisa mengambil hati pada akhirnya.

***

“Sehun Oppa terlalu mandiri sejak dulu. Entah, mungkin ini kesalahan ayah dan ibuku,” tutur Lizzy ketika mereka sudah duduk nyaman di subway. “Maksudku, tentu saja anak laki-laki harus mandiri. Tapi, apa yang ayah dan ibuku ajarkan terlalu keras. Sehun Oppa sudah tidak pernah serumah dengan kami sejak usia tiga belas. Itu awal sekolah menengah pertamanya. Ibu sibuk dengan online shop-nya, sedangkan ayah sibuk dengan bisnisnya. Aku pun jarang melihat mereka jalan bersama-sama sejak masih sekolah dasar.”

Broken home?” tanya Zee, menjungkitkan alis. Sudah bertahun-tahun ia kenal Sehun, tapi ia hanya tahu secuil kisah keluarganya, sama sekali tidak rinci. Zee pikir semuanya baik-baik saja karena apa yang dikatakan Sehun menggambarkan itu. Sementara di sisi lain, Sehun sudah tahu banyak soal keluarganya—ayah Zee yang meninggalkan ibunya, disusul Zee yang berkuliah di luar kota hanya untuk menghindari aturan ketat sang ibu.

Lizzy menggeleng tenang. Pandangannya sebentar-sebentar terpindah ke luar kaca. “Orang tuaku menikah tidak atas dasar cinta, menurutku. Terlalu banyak yang ditutupi setiap kali acara keluarga. Sehun Oppa adalah satu-satunya pewaris yang akan mengelola harta mereka nantinya, maka dia dididik sebaik mungkin. Aku sendiri masih tinggal dengan mereka sampai kuliah ini. Waktu itu, aku minta tinggal dengan Sehun Oppa saja, padahal ibu sudah siap membelikan rumah baru—bahkan lebih besar dibanding rumah Sehun Oppa.”

Keluarga borjuis, batin Zee sambil manggut-manggut.

“Dia harus pindah ketika senior high school, tahu kenapa?”

“Sehun memang tidak kelihatan misterius,” jawab Zee, “namun sebetulnya apa yang dia tutupi terlampau banyak tanpa kusadari.”

“Itu karena kemandiriannya yang terlalu. Waktu itu, ayah memperkenalkannya dengan imperium bisnis yang telah dia bangun. Oppa sempat mempelajari bahasa-bahasa asing dan tata kelola bisnis ketika di tempat pindahan.”

Zee menyatukan jari jemarinya. “Rumit sekali lajur kehidupan kita. Tapi, omong-omong, mengapa kau menceritakannya padaku? Bukankah ini rahasia?”

Lizzy tersenyum. “Aku hanya berharap kaupaham serumit apa pemikiran kakakku. Dia tidak menerima banyak cinta dari keluarga, oleh karena itu dia sulit mencintai orang lain. Tapi, dia mencintaimu sepenuh hatinya. Mungkin karena dia tahu hidupmu cukup berat, maka dia segan menceritakan kisahnya padamu, Unnie. Hubungan kalian dimulai dengan cara yang rumit, dan akan terus rumit sampai Unnie bertemu orang tuaku nanti. Aku percaya kakakku akan mempertahankanmu. Dia marah bukan karena kekanakan. Dia takut kehilangan kekuatan yang menopangnya sekian lama. Dia takut kehilangan cinta yang jarang sekali dia dapat dari orang-orang dengan tulus.” Gadis itu menggenggam tangan Zee.

“Lizzy, bilang pada Sehun, Kyungsoo mendapat tawaran beasiswa untuk melatih vokalnya di luar negeri. Kami akan mengurus visanya ketika kecelakaan itu terjadi,” ujar Zee. Air matanya mengalir. “Soal yang kaulihat di krematorium, Kyungsoo benar-benar rapuh saat itu. Dia khilaf. Tapi, kami tidak ada apa-apa. Aku mencoba menjelaskan semuanya pada Sehun, tapi—”

“Semuanya akan baik-baik saja. Hidup ini tidak berwarna jika manusia tidak pernah salah paham,” Lizzy memotong tegas. Mereka bertatapan dan bertukar senyum. Zee menghapus air matanya, berharap apa yang Lizzy katakan akan jadi nyata.

***

Biasanya tidak sehening ini jika ia semeja dengan Chanyeol. Ia sudah menyuap daging bacon ke mulut untuk kali kesekian. Sayurannya hampir habis, begitu pula dengan potongan daging, namun Chanyeol masih sibuk sendiri dengan pen tab-nya. Segelas lemon tea yang dipesannya tidak disentuh sama sekali.

“Walaupun tugasnya penting, kauharus tetap makan.” Lizzy memutuskan memulai percakapan. Bagaimana pun, ini kali pertama ia semeja lagi dengan Chanyeol di kantin setelah berhari-hari dilanda kesibukan berlipat ganda. Organisasi yang diikuti Lizzy membuatnya tidak bisa menyisihkan waktu santai sedikit pun di sini.

Chanyeol diam saja.

“Yeol, kau tidak pesan makanan sekalian?”

Tetap tidak ada sahutan.

Lizzy yang kesal akhirnya merebut paksa pen tab-nya. Chanyeol mengalihkan pandang. Matanya tidak seceria biasanya. Tidak ada tawa atau senyuman di sana.

“Sejak kapan kaupeduli aku makan atau tidak?”

“Lalu tidak boleh kalau sekarang aku jadi peduli?”

Chanyeol tertawa. “Tidak perlu kalau hanya untuk pencitraan. Aku sudah biasa tidak dipedulikan.”

Lizzy mengepalkan tangan. “Baiklah kalau begitu. Sesukamu saja. Hidupmu bukan hidupku, ‘kan.” Chanyeol tidak menjawab, menarik pen tab dari tangan Lizzy dan segera pergi dari sana.

“Ada apa pula dengannya?” gumam Lizzy. Ia memutuskan melahap daging terakhirnya kemudian mengambil ponsel dari dalam tas. Ponselnya mati; sudah tidak dibuka selama beberapa hari sejak ia sibuk mengurus event.

Tring. Bunyi notifikasi masuk bukan hanya sekali. Berkali-kali sampai Lizzy berinisiatif memasang mode senyap. Ia menggulir layar ponsel, menemukan banyak panggilan dan pesan singkat.

“Ya ampun.”

Buru-buru Lizzy mengangkat tasnya dan pergi dari kantin. Sungguh kesalahan yang besar mematikan ponsel hanya karena ingin fokus pada event. Sungguh egois ia. Omong kosong semuanya. Ia berlari kencang-kencang.

Tujuannya hanya satu: Park Chanyeol.

—to be continued.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

@EnglishTips4U

Indonesia's first and only Twitter-based English learning portal

thedrabble.wordpress.com/

Shortness of Breadth

Flying NC FanFiction

Wild Imagination for Adults

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia dan Lainnya

Goresan Literasi

Tempat bernaungnya jejak-jejak karya untuk mengabadi.

Monolog Tan Panama

...datang dini hari, pergi sebelum pagi...

Macaroon Seoul

To write is like making a macaroon; put an effort on it, and the taste'd worth

Cerita Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

Never Danced Before

We Dance, We Laugh, Then We Dance Again

Twelveblossom

“Every story contains a secret–even the writer doesn't always know what it is.”―Carla H. Krueger

Miniatur Jenderal

Ini bukan cerita cinta

Storm on the Horizon

Crumbled Mind, Midnight Thoughts, & Rambled Words.

Hello phyokyo!

Make your imagination in my world!

trashy treasure

I'll keep it classy, never trashy, just a little bit nasty

Pretty Little Mind

come away, o human child!

Classic Dream

A Blank Space of My Art, Love, and Dream

Art Fantasy

We Fulfill Your Request

Writers' Secrets

Summer is red, sea is blue. Gonna tell a secret, I'll give you a clue.

%d bloggers like this: