[WR] Variasi Diksi dan Kaitannya dengan Gaya Tulis

Diksi, berasal dari kata diction dari bahasa Inggris, bermakna pilihan kata. Mengapa kata itu harus dipilih-pilih? Tentu karena tidak semua kata cocok untuk sesuatu yang ingin kita tulis. Penulisan naskah fiksi dan nonfiksi memiliki perbedaan yang mencolok dari segi diksi. Tentu kita tidak mungkin menempatkan diksi super-ilmiah di tulisan novel teenlit, atau meletakkan diksi santai atau nyastra di sebuah karya tulis ilmiah. Maka, inilah pentingnya memahami di kursi mana kita duduk, menulis apakah kita, lantas menentukan diksi yang harus digunakan.

Ada sebuah slogan yang bagus dalam memilih diksi; jelas, sesuai, dan menarik.

Jelas: berarti diksi yang digunakan dapat dipahami pembaca. Misal, kalian menggunakan kata ‘puppy’ daripada ‘anjing’ atau ‘binatang’. Ya, memang itu spesifik dan jelas, tapi tidak semua orang mengetahuinya. Maka, jangan lupakan segmen pembaca dan mempertimbangkan apakah semua orang dapat memahami maknanya. Jika dirasa tidak bisa dipahami semua lapisan, ada baiknya membuat catatan kaki atau memakai diksi lain yang lebih mudah dimengerti.

Sesuai: Ini sama dengan yang saya jelaskan sebelumnya. Diksi harus sesuai dengan jenis tulisan. Tidak mungkin membuat diksi yang puitis untuk makalah atau skripsi, dan tidak mungkin menggunakan diksi yang formal untuk menulis puisi.

Menarik: ada beberapa diksi yang maksudnya sama, namun jika diterapkan mengakibatkan ‘rasa’ yang berbeda. Contoh: dia menangis akan kalah menarik dengan air matanya bergulir menuruni pipi.

Lantas, bagaimana caranya melebarkan diksi? Kita bisa berpedoman dengan KBBI untuk mengetahui makna dari banyak kata-kata, dan menggunakan Tesaurus Bahasa Indonesia untuk melihat keterkaitan atau kekerabatan suatu kata dengan kata lainnya (seperti sinonim, homonim, dan poliseminya). Tapi, apakah caranya dengan membaca keduanya dan menghafalkan kosakatanya? Tentu tidak. Menghafal dengan cara seperti itu tidak efektif, selain karena akan cepat bosan, kita akan mudah lupa. Wong kalo menghafal materi pelajaran cuma dengan dibaca saja cepat hilang, kok.

Ada beberapa langkah yang bisa ditempuh, dan dari kesemuanya itu berpusat pada dua kegiatan, yakni membaca dan menulis. Kata memang selalu berhubungan dengan aktivitas literasi, maka memperkaya diksi juga dapat dilakukan dengan berliterasi.

  1. Membaca

Bacalah buku-buku yang kalian suka, baik fiksi dan/atau nonfiksi, versi bahasa Indonesia ataupun Inggris, terserah saja. Kalau bisa perbanyak variasi bukunya. Lebih banyak, lebih baik. Dari buku-buku tersebut, pasti kalian akan mendapat banyak perbendaharaan kata. Kalau kalian tipe yang mudah lupa, bisa sambil membaca sambil siapkan notes untuk mencatat kata-kata yang tidak kalian pahami untuk kemudian dicari maknanya di KBBI. Untuk versi bahasa Inggris, petualangannya lebih luas lagi. Kalian bisa mencari makna kata yang belum dipahami di kamus bahasa Inggris, lantas mencari sinonim/padanan kata yang lain di dalam bahasa Indonesia. Apalagi, terkadang ada istilah dalam bahasa Inggris yang belum kita tahu padanannya dalam bahasa Indonesia. Sambil menyelam minum air, intinya begitu. Jangan sampai seorang penulis jadi pembaca hanya untuk menikmati cerita, tapi juga harus mengambil manfaat dari penulisan author-nya. Jangan takut, nggak ada yang namanya plagiat diksi.

  1. Menulis

Nah, setelah membaca dan mengumpulkan perbendaharaan kata, kita juga perlu menuliskannya. Tanpa menuliskan, ilmu yang sudah kita peroleh akan sia-sia saja. Tapi, apakah sekadar menuliskannya saja? Ada juga teknik untuk memilih perbendaharaan kata yang sudah ada, menjadi lebih kreatif ketika dimasukkan ke dalam kalimat. Ada istilah dari Sutardji Chalzoum Bachri “Bebaskan kata dari makna”. Nah, maksudnya apa? Makna itu definisi. Ketika kita terpaku pada satu jenis definisi dari sebuah kata, maka kalimat kita jadi membosankan dan itu-itu saja.

Contoh gampangnya, misal kata melihat. Secara harfiah artinya adalah menatap. Tapi, dengan prinsip “bebaskan kata dari makna”, melihat bisa disebut menghunjam, menusuk, menyaksikan, menonton, menjurus, memanah, menguliti, dsb.

Nah, setelah membebaskan kata dari satu makna definitif saja, kita bisa lebih memperkaya diksi dalam tulisan kita. Tidak selalu “aku melihat matanya dengan berdebar” tapi bisa menjadi “tatapanku terpanah pada matanya sembari jantungku berdegup kencang” nah, lebih cantik dan tidak biasa-biasa saja, ‘kan?

Selain itu, kalau sudah memiliki banyak perbendaharaan kata, jangan lebay. Gimana, sih, lebay ala penulis? Nah, dalam hal ini, kita duduk di kursi penulis cerita, bukan penulis puisi yang bahasanya bisa dibuang-buang secara mubazir. Ingat pula segmen pembaca kita. Tidak mungkin kita pakai diksi melangit yang berlebihan di novel teenlit yang bakal dibaca oleh para ABG. Ingat-ingat rumus “jelas, sesuai, menarik” yang sebelumnya kita bahas.

Lantas, apa sih, kaitannya diksi dengan ciri khas tulisan?

Nah, diksi adalah salah satu kekuatan yang dimiliki penulis dalam tulisannya. Dengan kekayaan diksi, penulis bisa membangun gaya tulisnya dengan lebih baik. Dalam mendefinisikan dan mendeskripsikan sesuatu juga bisa lebih hidup karena diksi yang baik. Tapi, apa cukup dengan diksi saja? Penguatan diksi tentu penting, tapi ada hal-hal lain yang juga harus diperhatikan setelah belajar memperkaya diksi.

Ada beberapa cara untuk menemukan gaya tulismu, yang semuanya juga berpusar dalam kegiatan membaca dan menulis:

  • Sontek penulis-penulis yang kamu sukai. Jangan cuma satu penulis, itu namanya plagiat. Bacalah banyak buku dari penulis yang berbeda-beda, nanti kalian akan temukan formula dari kesemuanya dan dapat mengaplikasikannya menjadi suatu jenis tulisan baru yang kalian banget. Intinya, nggak ada yang baru di dunia ini, jadi jangan takut buat mengeksplorasi banyak hal dari penulis-penulis yang sudah ada. Nggak masalah kalau awalnya tulisan kalian mirip dengan penulis A atau B, itu adalah suatu proses sebelum menemukan jati diri kalian.
  • Menulis dengan konsisten. Sama kayak tips biar wb hilang, ini juga bisa diterapkan untuk mencari gaya tulisan. Dengan tekun menulis, kalian akan tahu hal-hal apa yang paling menonjol dalam tulisan kalian. Jangan lupa untuk rajin beta-reading atau minta di-beta orang lain, ya. Ini juga bisa diterapkan, karena pendapat orang lain bisa jadi lebih objektif.
  • Menjadi dirimu sendiri. Jadi, tulisan itu adalah cerminan diri. Kalau menyimak dari teknik Jeff Groin, kalian bisa menemukan gaya tulis dari latihan berikut:
  1. Menggambarkan diri dengan tiga kata sifat yang paling menonjol dalam dirimu. Misal: ceria, penyabar, enerjik. Nah, kira-kira kayak gitulah jenis tulisan yang bisa kita kembangkan.
  2. Bayangkan pembaca karya-karyamu, karena apa yang kita tulis biasanya terpengaruh pada siapa yang membacanya.
  3. Pikirkan dengan baik 5 buku yang paling ingin kamu baca. Apa yang sering dibaca dapat memengaruhi gaya menulis.
  4. Tanya pada teman tentang sifat-sifatmu secara detail, mintalah dia untuk jujur. Dengan mengetahui karakter asli, kita akan lebih mudah menemukan gaya tulis.

Selanjutnya, kalau sudah tahu gaya menulisnya, bagaimana menguatkannya? Tentu saja dengan lebih rajin menulis. Yang biasanya sehari lima belas menit, tambah jadi setengah jam. Yang biasanya setengah jam, tambah jadi sejam. Dan seterusnya. Ketika kita sudah semakin mengenal ciri khas tulisan kita, kita akan menjadi seorang penulis yang lebih baik dari sebelumnya, dan pembaca juga bisa mengenali tulisan tersebut bahkan tanpa perlu melihat nama pengarangnya terlebih dahulu.

Jangan lupa untuk meningkatkan kapasitas gaya tulisan tersebut. Contohnya, ciri khas tulisanmu adalah setting yang kuat, maka tingkatkan kualitas setting tersebut dengan lebih banyak riset, membaca, dan traveling. Atau kalau ciri khasnya adalah development character yang dalam, maka lebih banyak baca buku psikologi, kepribadian, dan lebih peka terhadap lingkungan sosial untuk meningkatkan mutu tulisan.

Oke, barangkali sekian yang dapat saya bagi. Semua pertanyaan dapat ditulis di kotak komentar. Terima kasih!

Advertisements

2 Comments

Add yours →

  1. Niswaaa :”)) makasih udah berbagi tips macam ini.
    Aku juga sering ngerasa kalo abis baca suatu buku trus nulis pasti adaa aja yg menyerupai buku yg aku baca. Entah narasinya, dialog, cara menyampaikan karakter tokohnya, macem2. Aku jadi bingung sebenernya gaya nulis aku sendiri kayak gimana 😂 jadilah makin ke sini aku jarang baca buku, paling cerpen2 gitu doang hehe. tapi tetep aja masih belom menemukan jati diriku wkwk

    • Haloo kak washfaa terima kasih juga sudah berkunjung kemari 🙂

      Ah, tenang aja, aku juga ngerasain itu, dan as I said here, itu bukan masalah. Emang sebagai penulis kita bakal ngalamin fase pencarian jati diri, bahkan pas aku udah ngerasa klop dengan jalurku, aku masih suka coba-coba jalur lain, gaya nulis yang lain yang kurasa … way more cool, something like that haha. Selamat nyoba tipsnya ya, mudah-mudahan kita jadi penulis hebat di masa depan ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

@EnglishTips4U

Indonesia's first and only Twitter-based English learning portal

thedrabble.wordpress.com/

Shortness of Breadth

Flying NC FanFiction

Wild Imagination for Adults

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia dan Lainnya

Goresan Literasi

Tempat bernaungnya jejak-jejak karya untuk mengabadi.

Monolog Tan Panama

...datang dini hari, pergi sebelum pagi...

Macaroon Seoul

To write is like making a macaroon; put an effort on it, and the taste'd worth

Cerita Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

Never Danced Before

We Dance, We Laugh, Then We Dance Again

Twelveblossom

“Every story contains a secret–even the writer doesn't always know what it is.”―Carla H. Krueger

Miniatur Jenderal

Ini bukan cerita cinta

Storm on the Horizon

Crumbled Mind, Midnight Thoughts, & Rambled Words.

Hello phyokyo!

Make your imagination in my world!

trashy treasure

I'll keep it classy, never trashy, just a little bit nasty

Pretty Little Mind

come away, o human child!

Classic Dream

A Blank Space of My Art, Love, and Dream

Art Fantasy

We Fulfill Your Request

Writers' Secrets

Summer is red, sea is blue. Gonna tell a secret, I'll give you a clue.

%d bloggers like this: