[Hey, You?] #Nineteen: The Last Day

a series-fiction presented by Jung Sangneul

// Hey, You? //

Starring: [EXO] Kyungsoo and OC(s) {find out by yourself!}

Genre: semi-romantic, school-life, friendship

Length: Drabble-Chapter

Rating: Teenage

Summary

Hei, lelaki sendiri,

Taklukkan saja aku, tangkap hatiku, bahkan tanpa sepengetahuanmu

***

previous chapter

Nineteen: The Last Day

“Jadi, besok sudah berangkat dari sana?” wajah Mama terlihat senang mendengar perkataanku ketika baru memulai video call. Aku mengangguk tanpa sadar. Pikiranku sedang tidak terlalu fokus belakangan ini.

“Kenapa, Aini? Kok kayak mikir sesuatu gitu?”

Aku menggeleng, memaksakan seulas senyum tipis.

Mama yang sering lebih paham aku dibanding diriku sendiri segera menyahut, “Kamu pasti nggak mau pisah ya, sama teman-temanmu? Hei, zaman sekarang ‘kan sudah canggih, kenapa kamu khawatir? Mereka masih bisa dihubungi, kok, nanti.”

Sekali lagi aku tersenyum. Rasa-rasanya aku tidak pernah merasa seberat ini hendak meninggalkan suatu event. Apakah karena ini acara yang lebih lama dibanding sebelumnya?

“Ma, aku nggak siap balik sekolah,” gumamku kemudian.

Mama tertawa. “Kamu ini gimana? Emang kamu di sana tidur aja? Kan sekolah juga. Malah nanti pas sudah sekolah di sini lagi, kamu bisa pamerin tuh kemampuan speaking-mu. Dapat banyak kosakata baru, ‘kan?”

Anggukan ringkih keluar.

Aku masih mau bicara lebih banyak lagi, tapi waktu yang kupunya singkat. Setelah ini masih ada pertemuan untuk membahas malam puncak acara pertukaran pelajar yang akan dihelat nanti malam.

“Ma, udahan dulu, ya. Aku masih ada satu acara puncak nanti malem. Ini mau siap-siap.”

Di sana, Mama mengangguk mengerti. “Semangat ya, Sayang. Assalamualaikum.”

“Waalaikumussalam.”

Setelah memutus koneksi dan menutup laptop, pandanganku terarah pada fotoku dengan Kyungsoo—satu-satunya yang kupajang di almari belajar. Aku melepas selotipnya hati-hati, memindahnya ke dalam buku, bergabung dengan foto-foto lain yang sudah kucetak.

Tiba-tiba, dadaku berdesir. Mungkinkah jadi lebih berat karena aku harus melepaskan lelaki itu juga? Aku menggeleng-geleng mengusir pikiran bodoh itu.

***

Principal memulai jalannya diskusi. Sebagian besar beliau menggunakan bahasa Jepang sehingga aku agak mengantuk menyimaknya. Banyak kosakata yang aku tidak pahami, sehingga aku memutuskan menyangkut-pautkannya dengan kata sebelum atau sesudahnya yang kupahami. Kulihat Leonard malah sudah menguap berulang kali. Tidak sopan.

Kirana yang duduk di sebelahku menyikutku. “Inti omongannya apa, sih, Ai? Ngerti?”

Aku berpikir sebentar. “Kayaknya sih, nanti itu di malam puncak, bakal diumumkan kandidat siswa paling berprestasi, ada semacam nominasinya gitu. Terus, perwakilan dari kita disuruh ngasih kesan dan pesan selama di sini. Kalau mau ngajuin penampilan hiburan juga boleh.” Gadis itu manggut-manggut mendengarkan bisikanku.

Principal mengakhiri pidato panjangnya mengenai rundown acara dengan mengucapkan “terima kasih” berulang kali. Setelah Principal, beberapa guru juga bicara tentang teknis kepulangan kami, bandara dan maskapai yang akan kami pakai, dan hal-hal sejenisnya. Yang jelas, aku sepesawat dengan Kirana karena negara kami sama.

Pada akhirnya, kami dipersilakan kembali ke kamar untuk meneruskan packing. Aku mengepak buku-bukuku ke dalam tas khusus, sementara baju-bajuku masuk ke dalam koper.

“Ai,” Nancy memanggil. Ketika aku menoleh, matanya sudah berkaca-kaca.

“Hei, kenapa?” aku bertanya panik usai mendekat.

Dia malah langsung beringsut memelukku. “Aku akan merindukanmu, sungguh.” Setelah mengeratkan pelukannya, dia terisak.

Aku menepuk-nepuk pundaknya. “Pasti aku akan rindu juga.  Maka dari itu, jangan sampai kita hilang kontak setelah pulang ke negara masing-masing. Jangan unfollow Instagramku, wakarimashitaka1?

Hai, wakarimasu2.” Ia melepas pelukannya, mengusap air mata. Aku tersenyum, tidak ingin turut menangis karena itu akan jadi kenangan yang buruk. Perpisahan tidak harus dihiasi dengan tangisan, ‘kan?

***

Malam puncak itu akhirnya selesai. Tentu, aku bukan termasuk salah satu murid berprestasi yang berhak menerima hadiah dari sekolah. Tapi, aku mendapatkan banyak pelukan dari teman-teman dan tangis mereka berderai-derai—sementara aku tersenyum lebar-lebar karena berpegang pada prinsip.

“Ai.”

Semestinya sudah tidak ada orang. Aku harus kembali ke kamar di asrama dekat sekolah. Tadi sore kami yang ada di asrama satunya sudah mengepak barang dan membawanya kemari untuk mempermudah keberangkatan besok pagi.

“Ya?”

Ketika menoleh, aku tidak bisa tidak terkejut melihat lelaki itu mendekat.

“Sudah mau istirahat, ya?”

“Uh, kau juga, ‘kan?” tanyaku rikuh. Ini Do Kyungsoo, lelaki yang tadi menerima penghargaan sebagai ketua kelas terbaik di antara nominasi siswa-siswa pertukaran pelajar yang menjadi ketua kelas juga.

“Ini, untukmu.”

Kyungsoo tersenyum sembari menyodorkan sebuah kotak berbungkus kertas putih.

“Maaf, tidak bisa memberi yang lebih baik lagi. Tapi, ini untuk kenang-kenangan agar kau tidak melupakanku.”

Aku menerima bingkisannya, kemudian mengerjap. “Tapi, aku tidak menyiapkan apa-apa untuk—”

“Ini bukan acara tukar kado, Ai,” pangkasnya, “lagipula sudah malam. Pergilah ke asrama dan tidur. Oyasuminasai.

“Selamat istirahat juga,” balasku. Aku berbalik dan melangkah lagi. Sungguh, aku tidak ingin menoleh lagi karena tatapannya setengah mati membuatku ingin pingsan. Tapi, di detik kelima, aku kalah dengan egoku. Aku menoleh dan menemukan senyumannya terpatri di bibir, fokus untukku.

Saat sudah duduk tenang di pesawat, aku membuka kotak itu dan menemukan sekeping DVD dan gantungan kunci bunga sakura di sana. Kyungsoo juga menulis sesuatu di kertas kecil yang ia selipkan.

Terima kasih bulan untuk bersukacita. Saya mengingatmu. Semoga ini barang akan kamu suka. Sampai jumpa. [cr: Internet translator]

Aku tersenyum melihat tulisannya dalam romaji yang agak berantakan. Nantinya, aku akan tahu kalau DVD itu berisi video kompilasi kegiatan-kegiatan selama pertukaran pelajar. Aku sempat menontonnya berulang kali ketika sudah tiba di Indonesia, sebelum memutuskan menyimpannya saja.

Kyungsoo, terima kasih juga. Tapi aku tidak berharap kita berjumpa kembali.

to be continued.

1Wakarimashitaka? : sudah mengerti?

2Hai, wakarimasu : ya, mengerti

p.s. intinya jangan ekspektasi terlalu tinggi buat ending-nya di chapter  depan, nanti jatuhnya sakit, loh. /evil smirk/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

@EnglishTips4U

Indonesia's first and only Twitter-based English learning portal

thedrabble.wordpress.com/

Shortness of Breadth

Flying NC FanFiction

Wild Imagination for Adults

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia dan Lainnya

Goresan Literasi

Tempat bernaungnya jejak-jejak karya untuk mengabadi.

Monolog Tan Panama

...datang dini hari, pergi sebelum pagi...

Macaroon Seoul

To write is like making a macaroon; put an effort on it, and the taste'd worth

Cerita Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

Never Danced Before

We Dance, We Laugh, Then We Dance Again

Twelveblossom

“Every story contains a secret–even the writer doesn't always know what it is.”―Carla H. Krueger

Miniatur Jenderal

Ini bukan cerita cinta

Storm on the Horizon

Crumbled Mind, Midnight Thoughts, & Rambled Words.

Hello phyokyo!

Make your imagination in my world!

trashy treasure

I'll keep it classy, never trashy, just a little bit nasty

Pretty Little Mind

come away, o human child!

The Clown's Crown

"We write to live forever," you said.

Classic Dream

A Blank Space of My Art, Love, and Dream

Art Fantasy

We Fulfill Your Request

%d bloggers like this: