Karakter Wanita: Kekuatan Terselubung Suatu Karya

Dunia entertainment India biasa disebut Bollywood. Kali pertama serial-serial ini muncul di Indonesia adalah di masa tahun 70 sampai 80-an, karena budaya musik dan tari juga diadaptasi dari sana. Bedanya, ketika musik dangdut sudah mulai memudar di tanah Indonesia, India masih melestarikan hal-hal tradisional yang disampaikan melalui serial-serialnya. Meski tidak dapat ditampik bahwa alur yang panjang dan diisi tema “dendam kesumat” di mana-mana, kadang membuat penonton ingin gigit pintu saat menontonnya. Namun, setidaknya mereka konsisten terhadap penanaman nilai-nilai tradisi dan keagamaan yang seringkali diangkat masuk apa pun genre utama serialnya.

Nah, setelah beberapa lama surut, akhirnya salah satu stasiun televisi Indonesia kembali menayangkan serial-serial India ini, meski tak tanggung-tanggung total episodenya bisa mencapai 400 sampai 600. Akhirnya, demam India pun menerpa negeri ini, mengalahkan demam K-Pop yang dulu menguasai stasiun televisi atau K-Drama yang sekarang mulai lindap perlahan-lahan. Dunia ini memang berputar, Teman.

Dewasa ini, yang ditayangkan tidak hanya satu-dua judul saja, tapi sampai lima judul. Kalau saja saya sedang tidak libur panjang di rumah setelah lulus sembari menanti masuk kuliah, pasti saya tidak hafal judul-judul ini: Swaragini, Jamai Raja, Nakusha, RangRasiya, Madhubala. Sebelumnya ada Anandhi juga, tapi sekarang sudah tamat. Setiap judul punya alur cerita yang menarik dan memiliki pamor masing-masing di mata pemirsa.

Swaragini punya dua saudara tiri yang kedua suaminya punya hubungan darah sebagai sepupu. Konfliknya berpusat pada keluarga dan sekitarnya. Pemicu konfliknya pun berputar di ranah keluarga tersebut saja. Sedangkan Jamai Raja memiliki konflik yang ditonjolkan dari awal mengenai ketidaksetujuan mertua memiliki menantu miskin (klise ala Indonesia, ya?). Beda lagi dengan Nakusha yang membawa pesan bahwa “cantik itu luka” dan cinta bisa jadi titik lemah di kehidupan seseorang yang sempurna. RangRasiya punya genre unik, yakni thriller, yang menceritakan mengenai pernikahan palsu sebagai kedok perdagangan senjata ilegal—kasus yang sedang diincar batalion tentara India. Terakhir, Madhubala menceritakan seorang bintang besar yang tidak percaya pada dewa dapat dicairkan kebekuannya oleh seorang wanita—istrinya.

Dari semua deskripsi cerita di atas, saya memfavoritkan Madhubala. Bukan hanya karena scene romantisnya paling banyak di antara yang lain. Lebih tepat karena alurnya logis dan disampaikan dengan normal—tidak terlalu cepat, tapi juga tidak lambat. Selain itu, alasan paling pentingnya adalah karena pembangunan karakter utama wanita yang sangat baik.

Jika tokoh Swara di dalam Swaragini punya watak keras kepala di waktu-waktu yang tidak tepat, Madhubala sebagai tokoh wanita punya kekuatan keras kepala di saat-saat yang benar. Dia tidak main-main dengan setiap perkataannya, tidak segan-segan menampar seorang bintang besar yang nantinya menjadi suaminya saat dia bersalah. Sebagai wanita yang diperistri demi membayar utang ayahnya, dia tidak berubah menjadi tunduk tidak berdaya. Justru dia semakin kuat, melawan aturan-aturan melenceng yang dibuat suaminya, dan mengubah watak suaminya menjadi pria berhati lembut kembali. Yang paling menarik, dengan sikap keras kepalanya, dia tidak pernah bersifat munafik, dia selalu apa adanya. Meski ada kalanya ia berbuat salah dengan berburuk sangka, namun itu karena keadaanlah yang memaksanya untuk waspada.

Di dalam serial Nakusha, pemeran wanita seolah begitu bertekuk lutut untuk cintanya, tapi Madhubala tidak. Alih-alih bertekuk lutut lebih dulu, ia justru membuat suaminya yang dulunya tidak percaya cinta jadi begitu mencintainya. Memang, watak keras kepala di karakter wanita bisa jadi sangat mengesalkan. Namun karena diselipkan pada waktu yang tepat, karakter itu jadi semakin menguatkan proporsi Madhubala di dalam serialnya.

Bisa dibilang, dalam serial India, kekuatan karakter utama wanita adalah hal yang sangat perlu. Karena mayoritas ceritanya selalu menjelaskan mengenai sisi gelap seorang lelaki yang hanya bisa disentuh seorang wanita.

Contohnya saja di Nakusha, suami Nakusha adalah seorang mafia kota yang tidak percaya kecantikan karena sudah dua kali berturut-turut dikhianati wanita cantik. Nakusha hadir sebagai wanita berwajah buruk rupa, namun hatinya tulus. Sayang, watak Nakusha kurang kuat. Dia sebetulnya cantik, namun justru tidak juga berani mengungkapkannya sampai sang suami tahu dari orang lain. Alur di dalam serial ini juga membuat karakter Nakusha jadi semakin bertele-tele dan lemah. Tapi, saya senang ada perubahan karakter saat dia menjadi cantik, bahwa dia lebih berani—meski itu juga jadi kelemahan karakternya yang sangat tidak percaya diri hanya karena fisik.

Madhubala merepresentasikan cerita bahwa seorang wanita tak harus selalu tunduk pada apa titah suaminya untuk merebut hatinya. Dia diceritakan sebagai penentang, namun menentang untuk hal-hal yang baik. Jika dia ingin melarang suaminya minum, ia membuang minumannya di hadapannya. Ia ingin suaminya kembali menyembah dewa, ia pun membuat upacara hari raya Ganesha di rumahnya. Ia ingin suaminya percaya pada tradisi Karva Chaot, maka dia berpuasa secara diam-diam sampai menyentuh batin suaminya. Selain itu, karakternya disokong dengan karakter pria yang tidak mudah dibohongi, yang memahami watak Madhubala dan takkan salah memercayai setiap langkahnya.

Kekuatan karakter seperti ini dapat coba diterapkan dalam sinetron-sinetron di Indonesia atau di dalam tulisan-tulisan kita. Memang tidak mudah, namun development character yang bagus akan membuat dia diingat terus oleh penonton atau pembaca. Watak yang bagus tak harus bagus dari awal. Dia boleh buruk di awal, namun digiring untuk menemukan kekuatannya dengan cara-cara yang tak biasa sepanjang hidupnya. Kalau pernah membaca buku karya Kasie West, The Fill-In Boyfriend, pembangunan karakter utama wanitanya juga di awal terlihat baik, namun ternyata dia punya lubang kesalahan yang besar, dan seiring berjalannya waktu dia berusaha berubah disokong oleh karakter prianya.

So, tunggu apalagi? Dari serial India saja kita sudah bisa belajar seperti apa cara menonjolkan suatu karakter. Jadi, jangan stop belajar menangani masalah karakter dalam tulisan atau sajian visual, ya. Karakter adalah nyawa dalam sebuah karya.

 

Ditulis di ujung masa liburan, tapi kayaknya bakal tetap kecanduan nonton India.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

@EnglishTips4U

Indonesia's first and only Twitter-based English learning portal

thedrabble.wordpress.com/

Shortness of Breadth

Flying NC FanFiction

Wild Imagination for Adults

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia dan Lainnya

Goresan Literasi

Tempat bernaungnya jejak-jejak karya untuk mengabadi.

Monolog Tan Panama

...datang dini hari, pergi sebelum pagi...

Macaroon Seoul

To write is like making a macaroon; put an effort on it, and the taste'd worth

Cerita Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

Never Danced Before

We Dance, We Laugh, Then We Dance Again

Twelveblossom

“Every story contains a secret–even the writer doesn't always know what it is.”―Carla H. Krueger

Miniatur Jenderal

Ini bukan cerita cinta

Storm on the Horizon

Crumbled Mind, Midnight Thoughts, & Rambled Words.

Hello phyokyo!

Make your imagination in my world!

trashy treasure

I'll keep it classy, never trashy, just a little bit nasty

Pretty Little Mind

come away, o human child!

The Clown's Crown

"We write to live forever," you said.

Classic Dream

A Blank Space of My Art, Love, and Dream

Art Fantasy

We Fulfill Your Request

%d bloggers like this: