[Orific] Revolusi Karakter

by Niswahikmah

 

Di bulan awal kehamilan, Lana masih bersolek dan berangkat kerja. Tasnya tersampir di bahu selagi ia berjalan menuju halte bus atau kalau Justin kebetulan berjadwal sama dengannya ia bisa berjalan dengan suaminya. Namun, memasuki trimester pertama, dia begitu lemah hanya untuk berjalan sebentar saja. Awalnya, Justin berinisiatif membersamakan keberangkatan Lana ke tempat kerja dengan sang ayah. Tapi, kondisi Lana memburuk dan ia harus menjemputnya di tempat kerja sebelum jam efektif berakhir.

“Mungkin Nona Lana harus istirahat dahulu di rumah. Kalau sekiranya perlu mengambil cuti, silakan menghubungi manajer kami, Tuan.” Itu ujaran salah satu staf yang menemani Lana di lobi kantor.

Lana hanya bisa mengangguk lemah pada perempuan itu, sementara Justin memegangi tangannya sepanjang langkah menuju luar. Taksi sudah dipesan dan siap ditumpangi.

“Kauyakin boleh?” tanya Justin.

“Cuti sepanjang hamil?” Lana bertanya balik. “Mungkin bisa, mungkin juga tidak. Kita coba dulu saja.”

“Kau sih, aktif sekali di dalam. Ibumu ini ringkih, kautahu?” gerutu Justin sambil mengusap pelan perut sang istri. Lana hanya tertawa kecil mendengarnya. Baru kali ini ia merasakan tenaganya seakan lesap diisap kekuatan dari dalam. Setiap makan perutnya mual seperti ingin mengeluarkan kembali apa yang sudah ditelan. Inginnya muntah tapi tidak bisa. Ingin tidur namun badannya gemetar.

“Justin.”

Suaminya menoleh, menaikkan alis.

“Kalau sampai sembilan bulan seperti ini, bagaimana?”

“Kubuang kau ke Atlantik,” jawab Justin sambil mendengus. “Maksudku rumah orang tuamu. Kau pasti lebih suka di sana, ‘kan?”

Lana menggeleng kecil. “Kau sudah tahu hubunganku dengan Ibu kurang harmonis. Tapi, kalau aku beban di rumahmu, tidak apa-apa.”

“Mana mungkin beban? Aku hanya memikirkan kenyamananmu. Di rumahmu toh ada Ayah yang mengkhawatirkanmu dan ada adik yang menjagamu. Di rumahku semuanya sibuk, Sayang.”

Lana menyandarkan kepalanya ke bahu Justin. Tidak menyahut karena otaknya belum ingin memikirkan rencana ke depannya. Ia lelah. Namun, di sisi lain, ia juga bahagia. Bagaimana pun sulitnya fase ini, bayi di dalam kandungannya adalah anugerah.

***

“Kak Lana tidak apa-apa, ‘kan?” yang pertama terdengar begitu Lana melangkah masuk dengan bantuan tangan Justin adalah tanya dari Clara.

“Aduh, pucat sekali! Sudah kubuatkan susu, nih. Masih hangat kok. Tadi aku sekalian bikinkan Ayah kopi.” Berlanjut lagi, Clara nyengir ketika dipelototi kakaknya.

Justin menuntun istrinya untuk duduk di sofa depan televisi sebelum melangkah masuk kamar. Clara langsung saja menyerobot untuk duduk di sebelah Lana. Ia mengusap-usap punggung Lana dan memijat lengannya pelan-pelan.

“Hamil itu nggak enak ya, Kak?”

“Bukan enak nggak enak, Clara. Ini memang terlihat tidak enak,” Lana menghela napas untuk melanjutkan, “tapi ini menggembirakan.”

“Bagaimana bisa?” Clara mengerutkan kening.

“Hei, kautahu, sebelum hamil, Kak Lana sempat berpikir bahwa orang seringkih kakak mungkin tidak akan dikaruniai bayi dalam waktu dekat.” Lana perlu mengembuskan napas lagi karena masih lemas. “Tapi, ternyata hanya hitungan minggu, janin ini bertumbuh. Rasanya seperti keajaiban.”

Clara tersenyum memandang pancaran mata yang tulus itu. Itu milik seorang ibu, batinnya.

“O ya, terima kasih susunya. Kalau cokelat mungkin kakak tidak terlalu mual,” lanjut Lana, tersenyum tipis.

“Ini sudah minggu kesepuluh, ‘kan?” Justin yang baru keluar dari kamar dengan baju santainya memotong pembicaraan.

Lana mengangguk menjawabnya. Tangannya menggapai gelas berisi susu di meja di hadapannya, sedangkan Clara membantu memegangkannya semata karena cemas kakak iparnya tidak begitu kuat melakukannya sendiri.

“Terima kasih, Cla,” bisik Lana sebelum menyeruput susunya. Bau yang berbeda dari rasa vanilla kemarin membuatnya tidak segera mual. Malah kali ini rasanya pun tidak merangsangnya muntah. “Ini enak. Kau yang belikan?” Clara mengangguk cepat-cepat, memungkiri bahwa kemarin ia minta belikan ke Mama yang sedang belanja di supermarket kota.

“Jadi, adik bayinya sudah mulai membentuk organ-organ penting. Hmm, semua organ penting sudah mulai bekerjasama. Pertumbuhan otak meningkat dengan cepat, hampir 250.000 sel saraf baru diproduksi setiap menit. Ia mulai tampak seperti manusia kecil dengan panjang 32 sampai 43 milimeter dan berat tujuh gram.”

Ketika Clara menengok, ternyata Justin berjalan ke sofa sambil membaca booklet di tangannya. Ia mengernyit karena sebelumnya tidak pernah melihat kakaknya membaca. Boro-boro buku, leaflet singkat saja kadang terbuang tanpa pernah terbaca sehuruf pun. Di keluarga kecil ini, yang paling gemar membaca hanya Clara seorang. Bahkan Lana pun lebih suka menonton video ketimbang harus menelusuri ratusan aksara. Semuanya karena alasan klasik: sibuk. Lantas Clara akan dihadiahi banyak buku hanya untuk diminta mengisahkan atau menjelaskan kembali apa isinya pada anggota keluarga.

“Lihat dong bentuknya kayak apa di situ,” pinta Clara.

Justin memperlihatkan sekilas, kemudian kembali membaca.

“Kayak alien, ya?” Clara bergumam. “Adik bayi, tumbuh yang sehat, ya. Lihat tuh, gara-gara kau, Kak Justin jadi mau baca. Kalau kau lahir, mudah-mudahan kau lebih suka baca buku daripada ayah-ibumu, ya.”

“Bicara apa, sih?” gerutu Justin.

Lana meletakkan cangkir susunya lagi, kemudian menyandarkan punggungnya ke sofa. Memejamkan mata untuk sejenak.

“Ah, di sini juga tertulis kurangi makan nasi di pagi hari. Makan biskuit asin dan teh manis bisa menghilangkan gejala mual atau yang biasa disebut … morning sick? Tapi, kau mual tidak hanya di pagi hari, ya, La?”

Justin menoleh dan menyadari istrinya tertidur. Tinggal Clara yang masih menyimak siaran televisi. Ia melanjutkan membaca tanpa menyadari mata Clara masih meliriknya. Gadis itu takjub bagaimana satu bayi bisa mengubah karakter seseorang sebegitu cepatnya. Seorang Justin yang sangat cuek begitu memedulikan sakit yang diderita istrinya sepanjang kehamilan. Seorang Justin yang tidak suka menjelajahi kata merelakan diri membaca sesuatu yang berkaitan dengan bayinya.

Clara cuma berharap, semoga apa yang berubah hari ini tetap bertahan di kemudian hari. Tidak peduli bagaimana pun keadaan Justin setelah kehamilan ini berakhir.

end.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

@EnglishTips4U

Indonesia's first and only Twitter-based English learning portal

thedrabble.wordpress.com/

Shortness of Breadth

Flying NC FanFiction

Wild Imagination for Adults

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia dan Lainnya

Goresan Literasi

Tempat bernaungnya jejak-jejak karya untuk mengabadi.

Monolog Tan Panama

...datang dini hari, pergi sebelum pagi...

Macaroon Seoul

To write is like making a macaroon; put an effort on it, and the taste'd worth

Cerita Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

Never Danced Before

We Dance, We Laugh, Then We Dance Again

Twelveblossom

“Every story contains a secret–even the writer doesn't always know what it is.”―Carla H. Krueger

Miniatur Jenderal

Ini bukan cerita cinta

Storm on the Horizon

Crumbled Mind, Midnight Thoughts, & Rambled Words.

Hello phyokyo!

Make your imagination in my world!

trashy treasure

I'll keep it classy, never trashy, just a little bit nasty

Pretty Little Mind

come away, o human child!

The Clown's Crown

"We write to live forever," you said.

Classic Dream

A Blank Space of My Art, Love, and Dream

Art Fantasy

We Fulfill Your Request

%d bloggers like this: