[Orific] Mitra yang Hilang

related to Memeluk Kebebasan

other series of Diane-Clara click here.

warning: mengandung konten sensitif yang implisit. diharap kebijaksanaan dalam menginterpretasinya.


by  Niswahikmah

Dia menutup telinganya lagi. Entah kali keberapa, namun ini semakin menyakitkan. Teriakan-teriakan itu mengeras lebih daripada seharusnya. Seruan-seruan dari suara lain menyakiti pendengarannya lagi. Meski sudah ditutup sedemikian rapat, ia tetap mendengarnya menembus masuk. Ingin ia keluar dan membungkam mulut-mulut ribut itu. Tapi, adakah kehendaknya akan didengar?

Jadi, yang ia lakukan lagi-lagi hanya diam. Ia melirik pada kedua adiknya yang tidur pulas di pembaringan setelah ia peluk erat-erat sambil menahan tangis tadi. Ia juga takut, harus ia akui. Namun, menjadi kakak yang baik adalah mengatakan “tidak apa-apa” meski hatinya apa-apa. Menjadi kakak yang baik berarti tertawa saat adik-adikmu cemas, dan itulah yang dia lakukan sepanjang tujuh belas tahun hidupnya.

Ketika suara-suara dari balik pintu perlahan memelan, ia melepas tangannya dari daun telinga. Diambilnya oksigen banyak-banyak. Perlahan, ditemukannya suara lain yang lebih menenangkan.

“Tidak apa, semuanya akan baik-baik saja.”

Suara itu milik seseorang. Keluar dari rongga dadanya, pembuluh-pembuluh hidupnya, juga alam liarnya. Ia tersenyum lega.

***

Ia tahu, ini tidak benar. Semestinya ia tidak bersama Diane hingga sedemikian sore.  Gadis itu punya rumah, tidak sepertinya yang inginnya merusak dinding-dinding rumah dan terbang saja ke angkasa. Dia punya keluarga yang menunggu di huniannya sana, tidak sepertinya yang tidak pernah ditunggu lagi sejak distempel “dewasa”.

“Gimana pun perilakunya, tetap mereka keluargamu, ‘kan?”

Ia mengangguk membalas konversasi lawan bicaranya. Seharusnya Diane sudah lelah sekali karena mereka sudah duduk selama satu jam di sini. Dan, ini bukan tempat yang menyenangkan untuk nongkrong, sesungguhnya. Baunya tidak menyenangkan karena dekat dengan gorong-gorong yang entah berapa lama tidak dibersihkan. Meski begitu, ini tempat paling aman karena jauh dari pemukiman dan sekolah mereka.

Jam pulang juga sudah berakhir sejak lama. Ia tidak yakin mengapa Diane masih mau menunggu waktu berlalu dengan gadis infantil sepertinya. Apakah karena kasihan, ingin tahu masalahnya, atau benar-benar peduli? Adakah yang bisa mengukur kedalaman hati orang? Ia sudah sulit percaya pada kata-kata penghiburan karena itu terkesan hanya menenangkan sesaat saja tanpa ada respons lanjutan.

“Seperti tidak punya keluarga,” jawabnya setelah berpikir keras, “tidak sepertimu yang sekarang harusnya sudah ditunggu ayah ibumu. Pulanglah.”

“Mommy tahu aku ada urusan.”

“Langitnya mendung. Kalau hujan bagaimana?”

“Ya tinggal dilewati saja. Aku bawa mobil, kaulupa?” Diane memamerkan kuncinya, “Kita bisa ke mana saja. Kamu mau ke mana?”

Sekian menit setelah Diane mengucapkannya, titik hujan pertama jatuh. Gadis itu memegang lengannya dan menariknya untuk berlari menuju mobil yang diparkir tidak jauh dari tempat semula.

Setelah menutup pintunya, hujan itu berubah jadi deras cuma dalam hitungan sekon. Untuk pertama kalinya, ia merasa, melihat air dihapus oleh wiper mobil itu menyenangkan. Ia tidak tahu, apa yang diberikan Diane ini nantinya akan selalu ia tuntut, bukan sekadar ia ingat setiap serpihannya saja.

***

Ia percaya punya waktu lebih dari cukup bersama Diane. Ia bisa minta makan es krim bersama, beli boneka, menonton film sampai tersedu-sedu, melihat hujan bersama seperti waktu itu, atau hanya berjalan bersama di area Car Free Day. Ia punya berjam-jam, berhari-hari, berbulan-bulan untuk menikmati saat-saat itu dan melupakan apakah adiknya baik-baik saja mendengar amukan ibunya, apakah ayahnya masih sabar menahan gejolak permasalahan rumah tangga, dan segala macam hal yang terpapar di rumah.

“Gimana adikmu? Suka sama bonekanya?”

Tersenyum ia mendengar tanya itu. Kemudian mengangguk. “Bonekanya pasti mahal, ya? Kalau sudah dapat uang lebih, kuganti.”

Diane menggeleng lekas-lekas. “Tidak perlu, itu kan hadiah. Adikmu senang, aku juga sudah pasti ikut senang.” Dibalasnya senyum itu.

“Oh, ya, hari ini rapat ya?”

Gadis di hadapannya menggaruk kepala, kemudian mengangguk cepat.

“Lupa?”

Dia nyengir.

“Kurang tidur, sih.”

“Ditelepon terus, sih,” jawab Diane.

Ia tidak membalas agak lama. “Mengganggu, ya?”

“Oh, tentu saja tidak. Aku juga sudah telanjur sulit tidur.”

“Karena aku?”

“Bukan! Karena pertandingan bola tidak pernah tayang di siang hari.”

“Chelsea menang lagi?”

“Tidak ada kata kalah untuk kami!”

Ia tersenyum lebar. Di dalam kepalanya, suara-suara menyakitkan yang dulu sering singgah mulai berangsur menghilang. Ia lupa kapan terakhir kali mereka menyambangi. Tapi, ia sudah tahu apa obat untuk mengenyahkan mereka kapan pun ia inginkan, di mana pun itu.

“Diane.”

“Ya?”

I’m gonna miss you.”

Yang diajak bicara hanya terkekeh.

***

Ia tidak tahu kesulitan apa yang dihadapi Diane setiap kali mereka pulang terlalu larut. Ia hanya tahu hatinya bahagia dan semua kebutuhan psikisnya terpenuhi. Ia kurang tahu bahwa Diane berkorban banyak untuk satu-dua jam yang mereka lewati. Itulah yang menyebabkan di hari selanjutnya saat Diane menolak menjadi sandarannya lagi, ia menggunakan cara terakhir. Air mata.

Mulai sadarlah ia, bahwa setan itu ada. Memang, sudah tuli ia pada amarah di malam buta, tapi semuanya ia alihkan pada pelipur laranya. Sampai suatu hari ia menemukan pesan itu di ponselnya.

Berapa lama lagi kamu mau menyandera anak saya? Apakah pantas teleponmu tiba di malam buta, pesanmu mengganggu waktu keluarga?

Ia tidak punya banyak waktu dengan keluarga. Ibunya yang hanya sibuk dengan kemarahan pribadinya, ayahnya yang terlalu banyak pikiran hingga ia tak tega sekadar untuk mengajak cerita, juga adik-adiknya yang rengekannya membabi-buta. Terkadang ia memasang foto-foto membahagiakan—tersenyum indah bagai harmonis setiap saat—justru karena ingin menampakkan ia baik-baik saja. Semuanya normal. Meski nyatanya tidak ada yang stabil dalam masa remajanya.

“Mommy kirim pesan ke kamu, ya? Abaikan saja.”

Ini semakin tidak benar. Namun, setan di dalam dirinya enggan mengalah. Yang dulunya mewujud dalam seruan-seruan kebencian pada kondisi rumah, kini berubah menjadi sugesti-sugesti untuk mempertahankan kenyamanan yang telanjur ia dapat.

“Kamu mau menjauh?”

“Mungkin tidak bisa lagi sering-sering telepon. Tapi, kalau kamu mau cerita, kamu bisa kirim email. Mommy tidak pernah cek email-ku.”

Ia mengangguk. Sesuatu di dalam dirinya tertawa puas.

***

Suatu hari, rumahnya tidak lagi seberisik biasanya. Ayahnya pulang dengan kotak pizza di tangan dan ibunya terlihat sumringah menyiapkan piring-piring untuk ditata di meja.

“Ayo, makan, anak-anak Ayah. Kita harus mensyukuri rezeki Allah.”

Setelah berdoa, ia makan sambil tersenyum melihat adik-adiknya berbahagia. Tidak ada lagi tangisan ketakutan, meminta peluk darinya, atau menutupi telinga masing-masing hingga tertidur.

Di saat-saat seperti ini, sesuatu di dalam dirinya juga mulai stabil. Tidak lagi ia butuhkan penghiburan alami milik Diane. Tapi, malam itu, ia baru sadar, kalau ia tetap butuh menelepon setidaknya lima menit.

“Halo. Besok saja. Kondisinya tidak bagus.”

Dari sana, terdengar suara berbisik. Ia menghela napas, kemudian menutup teleponnya setelah berpesan supaya yang di seberang menjaga diri baik-baik.

Langit muram. Ia sudah tahu, kenyamanan ini akan berakhir jika ia melewati batasannya. Namun, sayangnya ia sudah memotong garis batas itu. Ia sudah meyakinkan pada dirinya bahwa hasrat ini tidaklah salah. Apa salahnya jika Tuhan bilang ini fitrah?

Ponselnya berdering lagi. Tertera nama yang pernah mencampakkannya.

Apa kabar?

Ia tertawa kecil. Dikuncinya ponsel itu tanpa pernah membalas si pengirim pesan. Ia tidur, untuk mengabaikan bahwa ada pertengkaran hebat di bilik rumah lainnya.

***

Teriakan-teriakan itu datang lagi. Ia merasa tangannya dipegangi, kemudian seseorang dengan senyum datang.

“Nona, duduklah. Kita akan bicara.”

Ia menatap bengis, benci dengan setelan necis perempuan itu. Benci dengan tatapan mata yang mengatakan bahwa ‘kamu membutuhkanku’. Gaya percaya diri itu membuatnya muak. Ia tidak akan mengungkapkan apa pun di sini. Tapi ….

“Tolong, jangan berbohong. Aku akan membantumu, jadi kauharus membantuku.”

“Bantu apa?”

Perempuan itu tersenyum sekali lagi. “Bantu aku untuk mengenalmu dan berteman denganmu.” Ia membuka-buka kertas di hadapannya, kemudian membetulkan kacamatanya.

“Jadi, benar kalau hari itu Diane jatuh dari jembatan?”

Mengangguk.

“Kudengar, kamu ada di sana. Ah, seharusnya aku juga ada di sana. Aku ingin menolongnya. Tapi, hanya kamu yang mendapat kesempatan baik itu.”

Ia diam. Tidak mengangguk ataupun menggeleng. Saat perempuan di hadapannya hendak membuka bibir lagi, air matanya menetes.

“Bunuh saja aku,” bisiknya.

“Kenapa?”

“Aku melukainya. Aku mencintainya. Aku ….”

Perempuan di hadapannya, dengan tag nama ‘Clara’ di dada, memegang tangan gadis itu erat. “Tidak apa-apa, aku ada di sini. Kamu tidak melukainya.”

Tangis itu menggema lagi. Clara menghela napas panjang. Gadis di hadapannya ini seharusnya ingat padanya, tapi nyatanya ia lupa. Sudah bertahun-tahun berlalu, dan ternyata inilah akhir kisah panjang itu.

Diane, janjiku sudah kuukir di hatiku sendiri. Sejak hari aku memercayaimu, aku bersumpah, akan menyembuhkan gadis ini. Dari sana, bisakah kau mendengar dan memberi doa padaku?

end.

Advertisements

3 Comments

Add yours →

  1. Kok bingung ya. Sebenernya di awal sdh paham konflik si tokoh utama dan hubungannya dgn diane, tapi knp diane mati dan clara itu siapa masih blm jelas untukku, dan kubaca berulang juga ttp g paham …
    Anyways, apa org2 lagi suka bikin psychology fic skrg, haha
    Keep writing!

    • Iyaa huhu ini memang agak membingungkan kalau nggak baca serial diane clara sebelumnya. Nanti aku kasih penjelasan tambahan deh kalo ini nggak bisa dibaca stand alone hehehehe. Kalo aku mood-mood an aja sih kak nulisnya mau genre apa xD

      Anyway makasiih udah nyempetin baca dan komen. Rindunyaa liat LDS nongol di kotak komen hihihihi ♥

  2. Hmm, sama kayak liana, aku masih belum nemu siapa clara ini. Mungkn bisa km tambahin link cerita sebelumnya, niswa :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

@EnglishTips4U

Indonesia's first and only Twitter-based English learning portal

thedrabble.wordpress.com/

Shortness of Breadth

Flying NC FanFiction

Wild Imagination for Adults

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia dan Lainnya

Goresan Literasi

Tempat bernaungnya jejak-jejak karya untuk mengabadi.

Monolog Tan Panama

...datang dini hari, pergi sebelum pagi...

Macaroon Seoul

To write is like making a macaroon; put an effort on it, and the taste'd worth

Cerita Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

Never Danced Before

We Dance, We Laugh, Then We Dance Again

Twelveblossom

“Every story contains a secret–even the writer doesn't always know what it is.”―Carla H. Krueger

Miniatur Jenderal

Ini bukan cerita cinta

Storm on the Horizon

Crumbled Mind, Midnight Thoughts, & Rambled Words.

Hello phyokyo!

Make your imagination in my world!

trashy treasure

I'll keep it classy, never trashy, just a little bit nasty

Pretty Little Mind

come away, o human child!

The Clown's Crown

"We write to live forever," you said.

Classic Dream

A Blank Space of My Art, Love, and Dream

Art Fantasy

We Fulfill Your Request

%d bloggers like this: