Aku dan FLP: Perjalanan Penuh Hikmah yang Belum Usai

 

DULU, saya kira Forum Lingkar Pena itu adalah penerbit. Itu disebabkan ada buku yang mencantumkan nama sejenis, yakni Lingkar Pena Publishing House. Pertama saya dengar nama itu adalah sewaktu SMP. Namun, saya belum berencana untuk menginjak ranah penerbit waktu itu. Masih penulis fiksi biasa.

Ketika masuk SMA, ambisi saya semakin membesar. Saya semakin paham bahwa gelegak dari dalam diri ini menuntut agar menulis bukanlah hanya dijadikan sekadar hobi. Menulis telah menjadi passion saya, dan saya ingin menjadikannya pekerjaan. Saya ingin jadi penulis. Oleh karena itu, saya mulai menyusun novel pertama saya—yang hingga kini belum mewujud jadi buku cetak. Novel perdana ini mengusung isu sensitif, tetapi dibawakan dalam genre romance. Setelah jadi, saya kirimkan ke penerbit. Waktu itu saya kirim ke Grasindo. Sayang sekali, hingga hampir setahun, tidak ada kabar konfirmasi apa pun dari pihak penerbit.

Dikarenakan bingung harus ke mana lagi mengirim naskah, saya menghubungi guru menulis saya sewaktu SMP. Dulu, saya tahu beliau adalah ketua Forum Lingkar Pena Sidoarjo. Ketika saya beritahu duduk masalah saya, beliau malah menyuruh saya ikut open recruitment dan bergabung dengan FLP Sidoarjo. Dalam hati saya bertanya-tanya, Lah terus naskah saya gimana, kok malah disuruh ikut seminar begini? Memang, waktu itu ada seminar motivasi menulisnya sekalian oprec.

Guru saya itu ternyata sudah naik tingkat jadi ketua FLP Wilayah Jatim. Beliau bilang bisa diskusi sesudah acara. Saya pikir, okelah tidak mengapa. Barangkali bisa dapat ilmu bermanfaat. Saya ajak teman saya juga. Dalam pikiran saya yang naif waktu itu, kan nggak harus daftar FLP Sidoarjo juga, cuma dateng aja nggak papa.

Di akhir acara, dibagikan form untuk mendaftarkan diri. Eh, teman saya bilang, tak apa ikut saja, nanti bareng dia perginya. Di kesempatan selanjutnya, saya berterima kasih teramat sangat padanya, sebab sudah jadi rekan seperjuangan paling loyal sepanjang kami di FLP. Singkat cerita, saya daftar. Usai acara, saya berbincang sejenak dengan guru saya itu, lalu pulang. Naskah saya masih mengambang entah ke mana, dan saya malah kecemplung ke lingkup organisasi: FLP Sidoarjo.

*

Sebenarnya, mudah saja kalau mau tidak niat. Tinggal tidak ikut kelas menulis dan selesailah semuanya. Saya tidak akan lolos jadi anggota muda. Namun, lagi-lagi saya merasa sayang, sebab ilmu-ilmu yang ditawarkan selama kelas menulis begitu menarik. Mulai dari menulis cerpen, novel, puisi, berita, sampai caranya nge-blog. Tempatnya juga ganti-ganti, jadi tidak bosan.

Akhirnya, sampailah saya pada penghujung kelulusan menjadi anggota muda. Antologi kami mengusung judul cerpen saya sebagai judulnya. Mengembang dada ini sebab rasa bahagia. Bersamaan dengan itu, saya didaulat menjadi MC untuk acara seminar kepenulisan yang kami gelar. Tentu tidak sendiri, ada rekan saya, Mas Ari, yang sampai sekarang jadi partner nge-MC paling kece.

Pada acara seminar itu pula, kami dilantik resmi menjadi anggota muda. Saya berhasil memperoleh piala FLP Sidoarjo Award di kategori anggota dengan karya terbaik. Sama sekali tidak menyangka akan berdiri bersama pemenang kategori lain di hadapan tamu seminar yang begitu banyak.

*

Bersama FLP Sidoarjo, saya kembali bersentuhan akrab dengan perjuangan organisasi, setelah sebelumnya ditempa di organisasi SMA. Tentu tidak jauh beda suka-dukanya, tetapi bersama FLP lingkup pergaulan dan relasi saya semakin meluas. Banyak orang-orang baik yang saya kenal dan mengajarkan saya hal-hal baru melalui kehebatan mereka masing-masing.

Lulus SMA, saya sempat mengalami kebimbangan: tetap stay atau leave. Ada kegamangan; khawatir tidak bisa membagi waktu, tidak cocok dengan lingkungan organisasi besar, dan banyak lainnya. Namun, waktu kembali berlalu dan saya ternyata tidak bisa melepaskan diri. Bukan sebab terkekang, tapi karena tumbuhnya rasa sayang. Rasa ingin membesarkan organisasi dan ingin terus menimba ilmu selagi ada waktu. Apalagi, saya masih berkuliah di kota yang sama.

Meneruskan perjuangan, saya akhirnya kenal dengan FLP Jatim ketika mempersiapkan writing camp. Semakin banyak kenalan, semakin banyak ilmu, semakin banyak pula pengalaman menghampiri. Writing camp salah satu ajang spesial yang membekas di hati—sebab waktu itu FLP Sidoarjo jadi panitianya.

Dari sana, saya tahu bahwa FLP itu besar sekali. Susunan kepengurusan keorganisasiannya sudah seperti Muhammadiyah saja. Ada ranting, cabang, wilayah, sampai pusat. Keren, ‘kan? Di kegiatan yang melibatkan wilayah, perwakilan-perwakilan dari cabang akan datang dan bertemu sosok-sosok sepuh yang telah membesarkan FLP dari awal. Bahkan jika ikut Musyawarah Nasional, banyak orang FLP dari negeri lain yang ikut datang. Jadi, ranahnya sebenarnya sudah bukan nasional, tapi internasional.

Selain jatuh cinta dengan struktur organisasi, saya juga cinta dengan prinsip dan cara berpikir punggawa-punggawa FLP. Saya suka dengan slogan “berbakti, berkarya, berarti”, juga suka cara berpikir “raihlah poin, koin akan mengikuti”. Selain itu, saya terinspirasi dengan napas keagamaan dan dakwah yang dibawa sebagai salah satu motivasi utama menulis, supaya bahan bakar tak pernah habis.

Ah, pokoknya seiring berjalannya waktu, lingkaran pena ini justru semakin melilit saya.

*

Bersama program-program yang terus berjalan, saya juga ikut berusaha ambil bagian. Menghidupkan literasi di wilayah Sidoarjo memang bukan hal mudah, tetapi dengan sumber daya yang cukup, bukan tidak mungkin.

FLP Sidoarjo mulai mengembangkan sayapnya lagi. Semakin membubung, semakin tinggi. Sampai akhirnya, saat Musyawarah Wilayah, nama saya masuk nominasi sebagai pemilik Karya Nonfiksi Terpuji dan Penulis Terpuji. Meski hanya nominasi, setidaknya nama saya pernah jadi bahan pemilihan di antara sekian banyak penulis di FLP.

Perjalanan saya yakini masih panjang. Entah sepanjang apa. Yang terpenting, selama saya mampu, kontribusi akan selalu saya berikan. Selagi ada waktu dan Allah berikan tenaga yang cukup. Terakhir, yang saya kuatkan adalah niat. Bahwa semuanya adalah lillah dan fillah. Bukan untuk ketenaran lagi. Bukan sekadar untuk kesuksesan dunia. Sebab jika sudah lillah dan fillah, ditambah untuk berdakwah, dunia akan sukarela mengekori.

Bismillah. Perjuangan belum usai.

*ditulis untuk mengikuti lomba blog bertajuk “Aku, Kamu, dan FLP” memperingati Milad FLP ke-21. Jaya terus FLP-ku, cinta platonisku.

Advertisements

6 Comments

Add yours →

  1. Bagus sekali Niswa… 🙂
    Semangatmu yang luar biasa itu begitu mengagumkan.
    Semoga sukses selalu ya.

  2. Masya Allah Dek. Ceritamu sangat menginspirasi. Mari terus berkarya melalui literasi. Semoga Allah memudahkan ☺

  3. Semangat terus Niswah…

  4. keren dek…
    terus semangat..
    baarokallahu fiik..
    ma’a najaah.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

CHARISZHA

"Can't Life Without Drama."

@EnglishTips4U

Indonesia's first and only Twitter-based English learning portal

thedrabble.wordpress.com/

Shortness of Breadth

Flying NC FanFiction

Wild Imagination for Adults

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia dan Lainnya

Goresan Literasi

Tempat bernaungnya jejak-jejak karya untuk mengabadi.

Monolog Tan Panama

...datang dini hari, pergi sebelum pagi...

Macaroon Seoul

To write is like making a macaroon; put an effort on it, and the taste'd worth

Cerita Assa

Tulis Apa yang Kamu Pikirkan, Jangan Pikirkan Apa Yang Kamu Tulis

Never Danced Before

We Dance, We Laugh, Then We Dance Again

Twelveblossom

“The world is full of beautiful places. Let your heart be one of them.” ― Jenim Dibie

Miniatur Jenderal

Ini bukan cerita cinta

Storm on the Horizon

Crumbled Mind, Midnight Thoughts, & Rambled Words.

Hello phyokyo!

Make your imagination in my world!

trashy treasure

I'll keep it classy, never trashy, just a little bit nasty

Pretty Little Mind

come away, o human child!

Our Phosphenes

Turning over a new leaf.

Classic Dream

A Blank Space of My Art, Love, and Dream

%d bloggers like this: